Suara.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM melaporkan bahwa telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Jumat (10/04/2020) sekitar pukul 21.58 WIB.
Letusan Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda tersebut membentuk kolom abu berketinggian mencapai 500 meter dari puncak gunung.
Durasi semburan abu Gunung Anak Krakatau terjadi selama 38,4 menit. Kolom abu juga teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal dan condong mengarah ke arah utara.
Hingga kini status Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level II atau waspada dengan konsekuensi. Warga pun tidak boleh mendekat dalam radius dua kilometer.
Saat terjadi erupsi gunung, orang disarankan untuk tetap berada di dalam rumah untuk membatasi paparan terhadap abu.
Sebab, menghirup abu vulkanik dapat menjadi gangguan dan menyebabkan ketidaknyamanan, dan mungkin memiliki efek kesehatan yang lebih serius bagi sebagian orang.
Untuk mengurangi paparan terhadap abu vulkanik, Jaringan Bahaya Kesehatan Vulkanik Internasional (IVHHN) dalam situs resminya memberi beberapa cara paling efektif. Antara lain:
1. Menjauhkan abu dari lingkungan tempat tinggal
- Tutup pintu dan jendela jika memungkinkan
- Jika memungkinkan, tutup celah dan ruang besar ke luar. Misalnya, Anda bisa menggunakan selotip dan plastik, atau handuk yang digulung.
- Cobalah untuk mengatur titik masuk/keluar tunggal untuk gedung. Tinggalkan pakaian/sepatu yang kotor di luar.
- Jangan menggunakan peralatan apa pun (misalnya AC) yang menyedot udara dari luar.
- Jika lingkungan dalam ruangan kemasukan abu, cobalah untuk membersihkan abu dengan lembut (misal menggunakan kain lembap).
- Jangan gunakan penyedot debu karena mereka bisa mengeluarkan abu halus yang kembali menyebar dalam ruangan.
2. Tinggal di dalam ruangan untuk waktu yang lama
Baca Juga: PSBB Hari Kedua, Kapolda Metro Sidak Pengamanan Posko di Pasar Jumat
- Pastikan bahwa lingkungan dalam ruangan tidak menjadi terlalu panas. Jika terlalu panas, pertimbangkan evakuasi.
- Jangan gunakan kompor masak dan pemanas, atau peralatan lain yang menghasilkan asap.
- Jangan merokok maupun vaping.
- Jangan gunakan pemanas gas yang tidak terbakar atau peralatan luar seperti pemanas teras gas atau barbecue, karena ada risiko keracunan karbon monoksida.
- Di luar ruangan, begitu abu telah mengendap, penting untuk menghilangkannya melalui kegiatan pembersihan, menggunakan air untuk meredamnya terlebih dahulu. Anda harus mengenakan penutup wajah jika Anda membersihkan abu yang menempel.
Kapan saya harus menggunakan perlindungan pernapasan?
Saat ada abu vulkanik, masker dapat dikenakan ketika berada di luar ruangan. Sebab abu bisa saja masih melayang di udara (baik saat hujan abu atau sesudahnya, ketika itu dapat dirobohkan oleh angin, kendaraan dan aktivitas manusia).
Perlindungan pernafasan yang paling efektif untuk orang dewasa adalah mengenakan masker wajah yang pas dan bersertifikasi industri seperti masker N95. Namun jika tidak ada, masker bedah standar maupun masker kain dapat digunakan untuk pertolongan pertama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien