Lan Ke, direktur Laboratorium Virologi Universitas Wuhan, mengatakan tingkat kematian 13 persen dalam studi remdesivir lebih rendah daripada uji klinis pada obat HIV, Kaletra. Pada pengujian Kaletra, tingkat kematian mencapai 22 persen.
Namun para peneliti tetap disarankan agar berhati-hati ketika membandingkan angka kematian karena adanya faktor-faktor seperti perbedaan standar peralatan dan perawatan medis.
Lan Ke mengatakan kepada Dxy.cn, bahwa sekitar 60 persen pasien dalam penelitian ini mengalami efek samping. Beberapa di antaranya cukup serius sehingga obat hanya boleh digunakan dalam kondisi dengan dukungan medis yang sesuai.
"Remdesivir tampaknya berperan dalam perbaikan klinis. Tetapi kurangnya perbandingan dengan plasebo atau kelompok tanpa obat membuatnya sulit untuk menilai efektivitasnya. Juga tidak ada indikasi virologi penting seperti viral load dan lamanya viral load di sini," katanya.
Meskipun begitu, Lan Ke menegaskan bahwa ia optimis tentang remdesivir dan menantikan hasil dari uji coba double-blind pada penelitian berikutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat