Suara.com - Wabah Covid-19 telah menambah kebutuhan dan sampah plastik. Mulai dari alat pelindung diri (APD), sarung tangan sekali pakai, masker bedah, hingga kantong mayat. Beberapa hal itu harus ada di masa wabah, namun di sisi lain juga menimbun sampah plastik.
Melansir dari CNN, para aktivis lingkungan mulai khawatir sampah plastik bisa menimbun secara permanen dan menggagalkan upaya pengurangan polusi plastik.
Menurut para aktivis, implikasi dari penimbunan sampah plastik selama bertahun-tahun jelas akan membuat laut semakin tercemar.
"Kami tahu bahwa polusi plastik adalah masalah global, itu ada sebelum pandemi," kata Nick Mallos dari LSM Ocean Conservancy yang berpusat di Amerika Serikat.
"Kita harus sangat berhati-hati tentang ke mana kita pergi, pascapandemi," tambah Mallos.
Penggunaan APD hingga masker jelas diperlukan untuk alasan kesehatan masyarakat. Namun sampah sering kali ditemukan dan dibuang sembarangan.
"Tepat di luar rumah saya ada sarung tangan dan masker yang dibuang," kata John Hocevar, direktur kampanye laut Greenpeace Amerika.
"Sudah hujan di sini selama dua hari, jadi ini sangat cepat hanyut ke selokan. Di sini di Washington DC, sampah berakhir di Sungai Anacostia, keluar di Teluk Chesapeake, dan kemudian Samudra Atlantik," tambahnya.
Dilansir dari CNN, produksi plastik global telah naik empat kali lipat selama empat dekade terakhir. Pembuatan plastik akan membentuk 15 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 2050. Sebagai perbandingan, semua bentuk dunia transportasi sekarang menyumbang 15 persen dari emisi.
Baca Juga: Kelewat Egois! Wanita Ini Bangga Berutang demi Menimbun APD di Rumah
Penelitian lain memperkirakan bahwa sekitar 8 juta ton sampah plastik bocor ke laut setiap tahun. Tetapi bisa diperparah dengan pandemi Covid-19.
"Struktur APD akan membuatnya sangat berbahaya bagi kehidupan laut," kata Hocevar.
"Sarung tangan mirip kantong plastik, bisa terlihat seperti ubur-ubur atau jenis makanan lain untuk penyu. Tali pengikat pada masker juga bisa membuat hewan laut terperangkap," imbuhnya.
Seiring waktu, produk-produk itu menambah koleksi besar plastik mikro di laut, udara, dan makanan. Ironisnya, saat kita memproduksi dan membuang plastik untuk melawan satu krisis kesehatan masyarakat, kita mungkin secara perlahan berkontribusi pada isu kesehatan yang lain.
Dengan risiko jangka panjang, nyatanya pandemi malah memaksa banyak orang, bisnis, dan pejabat pemerintah menggunakan plastik sekali pakai sebagai alternatif yang aman saat ini.
Perilaku penggunaan plastik di era pandemi ini dikhawatirkan bertahan permanan. Hal ini tentu akan membuat kemunduran pada upaya pengurangan polusi plastik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh