Suara.com - Ini Mengapa Ilmuwan Harus Bergerak Cepat Tangani Wabah Corona Covid-19
Perkembangan sains memiliki reputasi bergerak lambat. Terutama dalam proses menyusun data ilmiah akurat hingga mengembangkan vaksin yang membutuhkan waktu lama.
Tetapi adanya wabah penyakit menular yang menyebar dengan cepat, seperti Covid-19, menuntut langkah yang jauh lebih cepat dari para ilmuwan.
Upaya ilmiah untuk lebih memahami SARS-COV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, telah berkembang pesat. Dalam beberapa minggu setelah virus muncul pada manusia, para ilmuwan telah mengidentifikasi dan mengurutkan genom virus. Sehingga memberi para peneliti target untuk melatih vaksin dan perawatan potensial.
"Ini sangat, sangat cepat," kata profesor di Pusat Biologi Sistem di Universitas Harvard Dr. Pardis Sabeti dikutip dari Time.
Sabeti merupakan pelopor dalam mempelajari penyakit menular. Selama wabah Ebola 2014, ia dan timnya membantu mengurutkan virus penyebab Ebola dengan menggunakan data dari pasien yang telah terinfeksi.
Setelah data terkumpul, Sabeti dan timnya akan merilis ke situs resmi mereka dan menuliskan anjuran yang harus dilakukan dalam menghadapi wabah penyakit. Menurut Sabeti, tindakan itu bisa menjadi solusi dari segala hambatan akibat wabah.
"Kami membuat banyak kolaborasi di seluruh dunia dalam prosesnya. Beberapa di antaranya bagus, dan beberapa di antaranya berbahaya, karena kita mendapatkan banyak informasi yang salah," katanya.
Kemajuan lain yang terjadi pasca wabah besar terakhir, Ebola dan Zika, adalah para peneliti bisa mempunyai alat yang lebih canggih.
Baca Juga: Hemat ala Anak Kost, Ini Promo Ramadan untuk Buku Puasa
“Teknologi telah maju di setiap langkah. Kami berada pada titik di mana kami menghasilkan ribuan urutan genom virus dengan sangat cepat. Diagnosis baru bisa muncul setiap hari," katanya.
Ia mencontohkan, timnya menggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR untuk coba mengembangkan terapi antivirus dan alat diagnostik yang dapat menjalankan ribuan tes dalam waktu bersamaan mendeteksi lebih dari 100 virus yang berbeda.
Namun tidak semuanya berjalan maju, kata Sabeti. Meskipun para peneliti bisa lebih cepat dalam menguraikan genom SARS-COV-2, diagnostik tetap membutuhkan waktu lebih lama untuk tersedia bagi masyarakat.
"Jika virus baru datang, kita tidak bisa mendapatkannya beberapa bulan sebelum rumah sakit bisa mendapatkan tes. Data tersedia, teknologinya tersedia. Itu hanya akan mengubah proses," katanya.
Menurut Sabeti, penyakit menular telah membunuh lebih banyak orang daripada perang modern. Karena diperlukan kecepatan dan kerjasama dalam berbagi data secara akurat di antara para dokter.
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal