Suara.com - WHO Sebut Corona akan Jadi Endemik, Apa Bedanya dengan Pandemi?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus Corona Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang dan menjadi endemik. Untuk itu, masyarakat diminta tidak terlalu berharap dan memprediksi kapan pandemi virus Corona akan berakhir.
"Penting untuk memeringatkan ini, virus ini (corona) dapat menjadi virus endemik lain di masyarkat dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang," kata Dr. Ryan pada konferensi pers virtual dari Jenewa.
"HIV belum hilang, tetapi kita telah yakin dengan virus ini," tambahnya.
Lalu, apa yang dimaksud dengan endemik? Dalam ilmu epidemiologi medis, penyakit endemik adalah penyakit yang terjadi di suatu daerah tanpa pengaruh dari luar.
Suati penyakit disebut sebagai endemik bila infeksi terjadi dalam satu daerah terus-menerus, tidak lenyap namun juga tidak mengalami penambahan penderita dalam jumlah besar.
Salah satu contoh penyakit endemik adalah HIV dan AIDS, yang kerap diasosiasikan sebagai penyakit khas daerah Afrika.
Sementara di Indonesia, penyakit endemik antara lain adalah demam berdarah, malaria, dan penyakit kaki gajah atau filariasis. Ketiga penyakit ini masih terdeteksi di Indonesia setiap tahunnya.
Endemik berbeda dengan pandemi, yang berarti penyakit menyebar ke banyak negara tanpa terkendali.
Baca Juga: Ilmuwan Sebut Sejarah Pandemi Covid-19 akan Tertulis Dalam Lapisan Es
Menyadur dari The Conversation, Asisten Profesor Epidemiologi Universitas Texas A&M, Rebecca S.B. Fischer , menjelaskan pada dasarnya, ketika sebuah penyakit epidemi menyebar ke beberapa negara, ia sudah dianggap sebagai pandemi.
Virus Corona Covid-19 dari Wuhan termasuk pandemi karena sudah menyerang lebih dari 212 negara, dengan sekitar 300 ribu orang meninggal dunia.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan masih mungkin untuk mengendalikan virus dengan banyak upaya.
"Semua ada di tangan kita, itu (virus corona) menjadi masalah semua orang dan kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini," kata Tedros.
Ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove juga mengatakan bahwa masih perlu waktu untuk benar-benar keluar dari pandemi.
"Kita perlu masuk ke dalam pola pikir bahwa perlu waktu untuk keluar dari pandemi ini," kata van Kerkhove.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat