Suara.com - Selama ini kita berpikir kalau olahraga dapat memingkatkan kekebalan tubuh sehingga mampu melindungi kita dari infeksi virus dan penyakit, termasuk Covid-19.
Tapi, ternyata berolahraga terlalu keras pun tidak baik untuk kesehatan. Di masa pandemi ini, kita justru disarankan untuk tidak melakukan olahraga intensitas tinggi.
Dokter spesialis olahraga dr. Michael Triangto, Sp.KO mengatakan olahraga intensitas tinggi hanya akan memperbesar risiko terinfeksi penyakit, termasuk Covid-19.
Dalam kurva Immune Function and Exercise 2011 digambarkan hubungan antara intensitas olahraga, daya tahan tubuh, dan infeksi penyakit. Ada tiga titik, pertama titik kiri atas, kedua titik tengah terendah, dan ketiga titik kanan yang melonjak hingga ke atas.
"Kalau kita tidak berolahraga, itu adanya di titik pertama, kemungkinan risiko terhadap infeksi dan imunitas tubuh kita tidak olahraga. Begitu kita mau olahraga ringan sampai sedang, kita ada di titik kedua yang paling rendah," jelas dr. Michael saat berbincang dengan Suara.com, Kamis (14/5/2020).
Titik kedua ketika kita melakukan olahraga dengan intensitas ringan atau sedang, maka risiko terinfeksi penyakit adalah yang terendah atau paling minimal, karena daya tahan tubuh menjadi semakin kuat.
"Kalau kita olahraga berat, itu ada di titik ketiga yang lebih tinggi daripada tidak berolahraga, di titik pertama. Itu kemungkinan terinfeksi sangat besar, temasuk mengalami cidera," terangnya.
Bagaimana kita tahu kalau olahraga yang kita lakukan termasuk intensitas sedang atau tinggi? Kalau saat berolahraga kita masih bisa berbicara walau terengah-engah, maka itu artinya olahraga kita termasuk intensitas ringan dan sedang.
Sedangkan pada olahraga intensitas tinggi, kita tidak akan bisa berbicara ketika sedang berolahraga. Segeralah turunkan intensitas olahraga tersebut.
Baca Juga: Gegara Aplikasi Pelacakan Covid-19, Banyak Orang Korsel Ketahuan Selingkuh
Dr. Michael juga menyebutkan bahwa olahraga berat di masa pandemi Covid-19 ini dirasa tidak ada gunanya. Apalagi saat ini umat islam tengah menjalankan ibadah puasa. Olahraga intensitas tinggi yang dibarengi dengan puasa, bisa semakin memperburuk kesehatan.
"Jadi bisa dipahami kenapa yang berat jadi seperti itu. Sebetulnya dalam kondisi berat-berat, ngapain orang kurang kerjaan. Bulan puasa, ngapain," tutup dr. Michael.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat