Suara.com - Meski Ada Vaksin, Ahli Epidemologi Sebut Virus Corona Tak Akan Hilang
Masyarakat di seluruh dunia kini tengah menunggu vaksin yang efektif untuk melawan virus corona atau Covid-19.
Namun, para peneliti percaya bahwa meski setelah vaksin dikembangkan dan digunakan, SARS CoV-2 mungkin akan tetap tinggal dan menjadi endemik seperti HIV, campak, dan cacar air.
Seorang ahli epidemiologi dan biologi evolusioner, Sarah Cobey menyatakan: "Virus ini ada di sini untuk tinggal tetapi pertanyaannya adalah bagaimana kita hidup dengan aman?"
Para ahli percaya bahwa kita perlu upaya berkelanjutan dan kemauan politik yang kuat untuk memerangi penyakit endemik.
Mantan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Tom Frieden berbagi bahwa secara kolektif kita sedang menghadapi gangguan kekurangan perhatian.
"Segala sesuatu yang kami lakukan hanyalah respons spontan terhadap jangka pendek," lanjutnya.
Ketika ditanya tentang rencana aksi yang harus kita semua ikuti, Frieden berbagi bahwa kita semua harus memahami perlunya strategi pertempuran yang komprehensif dan mengimplementasikannya dengan cermat.
Meskipun para ahli percaya virus akan tetap tinggal dan tidak bisa hilang, Andrew Noymer, seorang ahli epidemiologi di University of California menyatakan bahwa itu bisa ada di negara yang relatif jinak.
Baca Juga: Salut, Chrissy Teigen Ingin Sumbang Rp2,9 Miliar Untuk Peserta Aksi di AS
Pengamatan ini menunjukkan bahwa virus akan menyebabkan infeksi yang lebih ringan sebagai sistem kekebalan tubuh kita untuk mengembangkan memori tanggapan terhadap virus. Meskipun prosesnya akan memakan waktu.
Saat semua tengah menunggu vaksin, wakil direktur Pusat Penelitian Vaksin pemerintah federal Amerika Serikat, Barney Graham berbagi bahwa rencana vaksinasi yang muncul saat ini mencapai 10 tahun.
Para ahli mengidentifikasi bahwa dalam beberapa tahun pertama kemunculannya, permintaan global akan jauh melebihi pasokan.
Jika komunitas internasional gagal untuk bekerja sama, pasokan yang terbatas akan menyebabkan penimbunan dan kampanye vaksinasi yang tidak efektif.
Meski demikian, para ahli percaya bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan dapat beralih ke pemikiran jangka panjang sampai infeksi menyebar lebih luas dan memengaruhi seseorang yang mereka kenal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
Terkini
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?