Suara.com - Pemerintah Indonesia nampaknya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk segera melakukan pelonggaran pembatasan terkait dengan pencegahan virus corona.
Sejumlah provinsi kini mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). DKI Jakarta misalnya, kini tengah sedang dalam masa transisi memasuki new normal.
Menurut Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Dr Zubairi Djoerban, keputusan untuk masuk ke new normal, sebaiknya memang mesti mempertimbangkan sejumlah indikator berdasarkan dengan basis data.
Lantas, kapan idealnya suatu negara, dalam konteks ini, Indonesia siap untuk melakukan new normal?
"Pertama itu bila peningkatan jumlah kasus makin berkurang melandai, itu harus," ujar Zubairi dalam tayangan Youtube Dreya Communication, Jumat, (5/6/2020)
Ia mengatakan bahwa untuk saat ini Indonesia masih sangat jauh agar kasus bisa melandai.
"Saat ini ktia tidak hanya medeteksi yang baru terinfeksi, namun juga yang sudah terinfeksi minggu lalu tapi belum terdiagnosis," kata Zubairi.
Indikator lainnya ialah apabila angka kematian turun drastis beberapa hari berturut-turut, baik yang positif maupun dengan protokol Pasien Dalam Pemantauan (PDP).
"Lalu kapan idealnya dilonggarkan, kalau rumah sakit tidak penuh lagi. Di Jakarta RS rujukan tambah banyak sekali dan reltif agak longgar, sedangkan di Surabaya beberapa RS masih penuh bahkan tidak bisa menerima tambahan pasien lagi," ujar Zubairi.
Baca Juga: PSBB Transisi, Sejumlah Protokol Kesehatan di Transjakarta Masih Berlaku
Selanjutnya, PSBB bisa dilonggarkan jika tes masih sudah dikerjakan. Saat ini, menurut Zubairi Indonesia memang telah melakukan tes secara masif. Namun, hal itu dinilai masih belum cukup.
"Kita sudah luar biasa banyak tapi penduduk kita juga banyak ini masih tidak cukup. Idealnya beberapa ribu per 1 juta penduduk kita masih 1000an sedangkan Singapura 50.000 (penduduk) dan Amerika Serikat 45.000 (penduduk)," ujar dia.
Selanjutnya, ia juga mengingatkan untuk terus wasapada terhadap gelombang kedua, dan juga belajar belajar dari pengalaman negara yang berhasil dan gagal.
"Lalu R value atau R number berapa satu orang yang bisa menularkan, Kalau di bawah satu PSBB bisa dilonggarkan,"kata Zubairi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI), Sudirman Said, juga menambahkan bahwa sebaiknya keputusan yang diambil terkait pelonggaran memang berdasarkan dengan pendekatan sains dan juga dari pendapat ahli.
"Jangan di politisir sehingga langkah-langkah dipertimbangkan itu teknis kesehatan dan keselamatan manusia," kata Sudirman Said.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!