Suara.com - Diakui banyak peneliti jika virus corona atau SARS Cov 2 memang memiliki kemampuan untuk menyebar dengan cepat. Itulah mengapa belakangan jumlah kasus infeksi terus melonjak drastis di beberapa negara.
Tapi, seiring peningkatan kasus, jumlah kematian ternyata tidak serta merta ikut meningkat. Bahkan, disebutkan bahwa angka kematian cenderung menurun, sehingga hal ini menimbulkan spekulasi bahwa kemungkinan virus corona sudah melemah.
Mengutip Dailymail, Sabtu (6/6/2020), selama tujuh hari terakhir tercatat temuan 114.000 kasus per hari, lebih tinggi dari sebelumnya yang rata-rata 86.000 kasus per hari pada pekan pertama di Mei 2020.
Tapi, untuk kematian, setelah dihitung, per Jumat 5 Juni 2020, terjadi 0,67 kematian per satu juta orang di dunia, jauh lebih rendah dibanding pada 16 April di mana angka kematian 1,35 per satu juta orang.
Sementara itu, pada 29 Mei terjadi 4.300 kematian per hari, lebih rendah dibanding pada awal Mei yakni sebanyak 5.100 orang per hari.
Temuan ini mungkin bisa jadi tanda virus corona melemah, meskipun belum ada bukti terkait hal itu dengan penelitian. Teori ini pertama kali diungkap dr. Alberto Zangrillo, Kepala Rumah Sakit San Raffaele Milan dan mantan dokter Silvio Berlusconi pada awal pekan ini.
Dr. Zangrillo memprediksi jumlah Covid-19 yang terdeteksi pada pasien di akhir Mei kemungkinan sangat kecil dibanding pada awal-awal virus corona menyebar.
Setelah beberapa hari, kata dia, virus ini berkembang dan mengatakan nampaknya cara virus berinteraksi dengan inangnya telah berubah. Inang adalah sel tempat virus tumbuh dan berkembang di dalam tubuh.
"Kekuatan virus itu dua bulan lalu tidak memiliki kekuatan yang sama dengan yang ada hari ini," kata Matteo Bassetti, Kepala Klinik Penyakit Menular RS. San Martino Genoa.
Baca Juga: Hewan Peliharaan Bisa Jadi Obat Stres saat Pandemi Corona
Hal yang sama juga diyakini Dr. Donald Yealy, peneliti University of Pittsburg Medical Center yang juga percaya bahwa kini virus sudah berubah. Ini karena beberapa pasien yang dinyatakan positif sangat sedikit yang kembali ke rumah sakit, dan tidak banyak pasien yang membutuhkan ventilator atau alat bantu pernapasan.
Namun, anggapan itu dibantah ahli organisasi kesehatan dunia WHO yang menyatakan tingkat infeksi masih tinggi dengan tingkat keparahan yang sama.
"Dalam hal penularan, itu tidak berubah. Dalam hal keparahan, itu (juga) tidak berubah," jelas ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak