Suara.com - Kasus infeksi baru virus corona atau SARS CoV 2 masih terus bertambah di dunia. Laporan worldometers, Sabtu (6/6/2020) pukul 08.20 WIB, dilaporkan ada sebanyak 6.844.705 orang terinfeksi Covid-19.
Dari data itu, didapatkan sebanyak 3.335.399 orang sudah sembuh, meskipun sebanyak 398.141 orang harus menjadi korban jiwa atas pandemi ini.
Menyusul organisasi kesehatan dunia WHO yang sudah menetapkan Amerika sebagai epicentrum baru tempat persebaran virus, terbukti per hari ini negara adikuasa itu mencatatkan kasus sebanyak 1.965.708 kasus.
Tercatat ada sebanyak 738.646 orang sudah sembuh, dan sebanyak 111.390 orang meninggal dunia. Hingga saat ini, Amerika sudah melakukan lebih dari 20 juta pengetesan kepada penduduknya.
Sedangkan di Brazil, ada sebanyak 646.006 orang yang terinfeksi Covid-19. Kasus di Brazil melonjak drastis dengan adanya 35.047 korban meninggal dunia, dan baru ada 288.652 orang yang dinyatakan sembuh.
Setelahnya, ada Rusia dengan total 449.834 kasus, Spanyol 288.058 kasus, dan Inggris sebanyak 283.311 kasus.
Dari beberapa negara yang bertengger di urutan tertinggi kasus Covid-19 terbanyak, India menjadi sorotan dengan 236.184 kasus. Pasalnya, sebagai pemilik kasus tertinggi di Asia, kasus di India juga melonjak melewati Italia yang memiliki 234.531 kasus.
Meski begitu, dibanding Italia yang telah mencatat 33.774 korban jiwa, India hanya mencatatkan kematian sebanyak 6.649 kasus. Itu artinya, tingkat kematian di India hanya 2,8 persen. Di India juga sudah ada yang berhasil dinyatakan sembuh sebanyak 163.781 orang.
Masifnya temuan kasus di India, lantaran negeri Bollywood itu sudah melakukan lebih dari 4,3 juta pengetesan virus kepada penduduknya.
Baca Juga: Virus Corona yang Ada Di India Disebut Berbeda, Kok Bisa?
Sementara itu di dalam negeri, per Jumat (5/6/2020) Indonesia mencatatkan kasus sebanyak 29.521, dengan 9.443 orang dinyatakan sembuh, dan sebanyak 1.770 orang yang meninggal dunia. Sampai saat ini, pemerintah baru melakukan sebanyak 380 ribu pengetesan.
Beberapa ahli berpendapat dengan jumlah infeksi yang semakin tinggi dan angka kematian yang menurun, maka ada kemungkinan kemampuan virus telah melemah dibandingkan dengan saat virus corona pertama kali beredar. Namun, anggapan ini telah dibantah oleh WHO.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak