Suara.com - Terbatasnya pertemuan langsung di antara remaja dengan teman-temannya selama pandemi bisa berdampak buruk dalam jangka panjang terhadap kesehatan jiwa.
Para ilmuwan menyatakan bahwa perkembangan otak, perilaku, dan kesehatan mental remaja bisa terganggu.
Ilmuwan mengklasifikasikan masa remaja antara usia 10-24 tahun, di mana kaum muda ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman daripada keluarga, saat mereka bersiap untuk kehidupan dewasa.
Bersamaan dengan itu pula, terjadi perubahan hormon dan biologis utama juga sekaligus waktu untuk perkembangan otak. Menurut para ilmuwan rentang usia itu juga termasuk fase kehidupan di mana masalah kesehatan mental kemungkinan besar akan berkembang.
Tetapi pandemi virus corona telah mengganggu semua itu, kata Prof Sarah-Jayne Blakemore, dari departemen psikologi di Universitas Cambridge.
"Karena dampak pandemi Covid-19, banyak anak muda di seluruh dunia saat ini memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berinteraksi tatap muka dengan rekan-rekan di jaringan sosial mereka di mana ketika ini sangat penting untuk perkembangan mereka," kata Sarah dikutip dari BBC.
Ilmuwan dari Cambridge Dr. Amy Orben dan Livia Tomova dari Massachusetts Institute of Technology menyerukan penelitian lebih lanjut untuk memahami efek dari perampasan sosial terhadap remaja.
Saat ini penelitian baru dilakukan terhadap hewan atas reaksi perampasan sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa primata dan hewan pengerat mengalami peningkatan perilaku cemas dan penurunan fungsi otak yang berkaitan dengan belajar dan memori ketika kontak sosial diambil.
Ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pengalaman untuk pembelajaran sosial, kata para ilmuwan.
Baca Juga: Keren, Remaja Ini Berhasil Kembangkan Aplikasi Pelacak Covid-19
Sementara itu yang terjadi pada manusia, Orben mengatakan, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang aktif, seperti mengirim pesan atau memposting foto, meningkatkan kesejahteraan dan membantu menjaga hubungan pribadi.
"Namun, telah disarankan bahwa penggunaan pasif media sosial, seperti hanya menyebarkan berita, mempengaruhi secara negatif kesejahteraan," tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?