Suara.com - Vaksin memang menjadi hal yang paling ditunggu untuk bisa memerangi pandemi tanpa pembatasan. Sejauh ini, para peneliti sedang mengerjakan hampir 200 vaksin potensial untuk virus corona, tetapi tidak ada jaminan vaksin bisa diandalkan dalam waktu dekat.
Dilansir dari Huffpost, Vincent Racaniello, seorang profesor mikrobiologi dan imunologi di Fakultas Kedokteran dan Ahli Bedah Vagelos Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat bercerita tentang bagaimana sulitnya membuat vaksin virus corona.
Saat ditanyai soal kemungkinan vaksin bisa tersedia pada akhir tahun ini, ia dengan tegas menjawab bahwa harapan itu tidak realistis.
"Tidak, saya pikir sangat tidak realistis untuk mengharapkan vaksin pada akhir tahun 2020. Kami belum membuat vaksin apapun dalam waktu sesingkat itu," kata Racaniello.
"Apa yang akan lebih realistis dalam pandangan saya, vaksin mungkin bisa tersedia di musim panas mendatang. Tapi, Anda tahu, vaksin bisa memakan waktu lima hingga 10 tahun dan lebih lama," tambahnya.
Racaniello menyatakan, bahkan vaksin polio membutuhkan waktu 50 tahun untuk berkembang.
Menurutnya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi para ilmuwan dalam mengembangkan vaksin. Tetapi tantangan utamanya adalah memahami apa yang dibutuhkan untuk melindungi seseorang dari infeksi.
"Kami telah berbicara sangat umum tentang respon imun, tetapi pada kenyataannya, ada komponen yang berbeda. Ada sel dan protein yang terlibat jadi kita perlu tahu mana yang penting untuk virus tertentu," kata Racaniello.
"Itulah salah satu alasan mengapa diperlukan 50 tahun untuk membuat vaksin polio, karena orang harus mencari tahu apa yang penting. Sekarang, untuk virus baru ini, kami tidak punya waktu untuk melakukan itu, jadi kami membuat banyak asumsi tentang apa yang penting, dan kami berharap asumsi itu benar," ungkapnya.
Baca Juga: WHO: Butuh Waktu Lebih Lama Hingga Vaksin Virus Corona Tersedia, Kenapa?
Profesor Racaniello menyayangkan bahwa kebanyakan pengambang vaksin adalah perusahaan-perusahaan berbasis laba dengan prioritas utama keuntungan. Selain itu, ia juga menyayangkan bagaimana pemerintah sangat sedikit berinvestasi pada bidang sains yang sangat bermanfaat, terlebih dalam kondisi pandemi.
"Kami terpincang-pincang di negara ini oleh kelumpuhan politik pemerintah kami dan keengganannya untuk berinvestasi dalam sains sepenuhnya, sehingga menghalangi hal itu. Sekarang, sejak SARS-CoV-2 ini muncul, ada organisasi nirlaba baru yang muncul dengan mengatakan, mereka akan mendanai pengembangan vaksin," ujar Racaniello.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang
-
4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini