Suara.com - Sejak pandemi virus corona atau Covid-19 melanda seluruh dunia, muncul suatu istilah baru yang disebut dengan super spreader event.
Istilah itu merujuk satu orang terinfeksi yang akhirnya menyebarkan penyakit ke sejumlah besar orang, seringkali tanpa disadari.
Kondisi itu yang mungkin menyebabkan lonjakan kasus virus corona di Amerika Serikat. Selama bulan Februari, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan bahwa jumlah kasus virus corona di AS rendah dan terkendali.
Tetapi pada akhir bulan acara seperti Mardis Gras, sebuah konferensi kerja internasional di Boston dan bahkan sebuah pemakaman di Georgia telah menyebarkan penyakit jauh dan luas.
Di Afrika Selatan, peristiwa serupa juga berkontribusi pada penyebaran, menciptakan hotspot virus. Sarapan doa di Bloemfontein menyebabkan peningkatan besar-besaran dalam kasus-kasus di Free State karena lima pelancong internasional yang terinfeksi.
Di London Timur, seorang wanita yang menghadiri pemakaman menyebarkan virus di fasilitas pemasyarakatan, sementara wabah besar-besaran menutup sebuah rumah sakit di KwaZulu-Natal.
Tapi bagaimana Anda mendefinisikan acara penyebar super?
Menurut sebuah makalah dari Nature yang menganalisis penyebaran virus, penularan penyakit umumnya bekerja berdasarkan prinsip 20/80 atau 20 persen orang yang terinfeksi bertanggung jawab atas 80 persen penularan.
Super spreader event, dalam hal ini, terjadi ketika individu yang terinfeksi menularkan penyakit ke sejumlah besar kasus sekunder. Tanpa pertemuan massal, tingkat infeksi rata-rata orang cukup rendah.
Baca Juga: Banyak Negara Ngeluh Sulit Lacak Virus Corona, WHO: Lemah!
Makalah lain yang berfokus pada penyebaran SARS yang diterbitkan oleh CDC mendefinisikan penyebar super sebagai seseorang yang telah menularkan penyakit ke setidaknya delapan kontak.
Dalam kasus virus SARS, satu super spreader yang terkait dengan penyebarannya adalah seorang musafir yang sakit di sebuah hotel Hong Kong dari mana ia menyebar ke negara lain melalui pengunjung internasional.
Mereka menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran SARS termasuk host, agen dan lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?