Suara.com - Seorang perempuan asal New York, Amerika Serikat, Caroline Shifke menyatakan bahwa ia harus melakukan 50 kali pemeriksaan ke pusat medis yang berbeda untuk yakin dengan penyakit yang ia derita. Shifke menulis pengalamannya tersebut dalam Huffpost yang terbit pada Senin (6/7/2020).
"Sejak Januari 2014, saya telah melihat lebih dari 50 dokter dan menjalani tes yang tak terhitung mulai dari pengambilan darah sederhana hingga menghabiskan lima jam di sweat chamber yang dilapisi bubuk ungu," tulis Shifke pada Huffpost.
Tes-tes yang ia jalani telah mengahabiskan ratusan ribu dolar. Sementara dari 50 pemeriksaan yang ia jalani, Shifke mengaku mendapatkan 26 diagnosis yang berbeda.
Saat mengunjungi Lenox Hill, para ahli menyatakan bahwa ia menderita ensefalitis limbik, yakni peradangan otak yang ditandai gangguan memori sub-akut, gejala kejiwaan, dan kejang.
Sementara saat ia perkunjung ke Mayo Clinic di Minnesota, ia didiagnosis dengan sindrom sensitisasi sentral yang kemungkinan dipicu oleh penyakit Lyme.
"Jika Anda bertanya kepada dokter penyakit dalam saya, seorang spesialis penyakit menular di New York-Presbyterian, saya disebut memiliki kondisi autoimun yang berada di luar bidang pengetahuan medis saat ini," catat Shifke.
"Tetapi jika Anda bertanya kepada saya, saya akan mengatakan saya memiliki gabungan semua hal di atas dan bahwa nama itu sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya lagi," imbuhnya.
Awalnya bagi Shifke, sebuah diagnosis yang jelas akan sangat penting untuk mengurangi risiko dan mendapat penanganan yang tepat.
"Memiliki diagnosis akan membatasi serangkain gejala yang tidak terkendali menjadi musuh yang saya pelajari," tulis Shifke.
Baca Juga: Kaki Bengkak Bisa Disebabkan oleh Beberapa Kondisi, Termasuk Gagal Jantung
Pencarian diagnosis Shifke berakhir di Pusat Rehabilitasi Sakit Mayo Clinic. Pada pusat rahabilistasi itu, mereka menyatakan bahwa pada penyakit kronis yang ia alami nama penyakit bukan hal utama, tetapi cara penanganannya lah kuncinya.
"Hal terpenting tentang penyakit kronis bukanlah namanya, melainkan manajemennya. Pencarian diagnosis menjadi tujuan sekunder yang lebih penting yaitu menjalani kehidupan yang baik yang mengakomodasi, tetapi tidak berfokus pada penyakit saya," ujar Shifke.
"Pada akhirnya, tidak masalah apa yang mereka sebut soal penyakit saya yang penting adalah belajar hidup dengan ini," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien