Suara.com - Depresi memang sering dikaitkan dengan lingkungan atau pengalaman hidup. Meski begitu, nyatanya seseorang bisa lebih berisiko kena depresi karena faktor genetik.
Depresi sendiri muncul dengan tanda perasaan sedih, hampa, putus asa, dan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya dinikmati.
Melansir dari Insider, jika Anda memiliki orangtua atau saudara kandung dengan depresi, risiko Anda terkena depresi menjadi 20 persen hingga 30 persen lebih besar daripada rata-rata orang, yakni hanya 10 persen.
"Kami tahu bahwa ada faktor genetik, sepertinya depresi diwariskan, tetapi kami juga tahu ada banyak faktor lain yang terlibat dalam menyebabkan depresi," kata Renee Witlen, MD, seorang psikiater di Portland, Maine.
Sebuah studi pada orang kembar tahun 2009 di University of Washington Twin Registry memperkirakan heritabilitas atau daya waris depresi pasangan kembar perempuan mencapai 58 persen di antara 1.064 anak kembar.
Studi lainnya yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry menemukan bahwa heritabilitas depresi mayor adalah 42 persen pada anak kembar perempuan dan 29 persen pada anak kembar laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin masalah genetik pengaruhnya dapat berbeda untuk setiap jenis kelamin.
Meski begitu, Witlen mengatakan bahwa penyebab depresi bisa sangat multifaktorial. Oleh karena itu, selain gen Anda bisa terkena gangguan mental ini karena lingkungan dan gaya hidup, seperti:
Trauma
Sebuah studi tahun 2015 mengamati 349 pasien yang mengalami depresi kronis dan menemukan bahwa 76 persen melaporkan trauma masa kanak-kanak yang mereka alami.
Baca Juga: Pandemi Covid-19 Meningkatkan Risiko Baby Blues dan Depresi Pascamelahirkan
Kecanduan Alkohol
Menurut meta-analisis 2009 dalam Journal of Subuse Abuse Treatment, hampir setengah dari perempuan dan seperempat pria dengan gangguan penggunaan alkohol juga mengalami depresi berat.
Isolasi Sosial
Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Public Library of Science menguji hampir 2.000 orang dewasa. Peneliti menemukan bahwa mereka yang merasa terisolasi secara sosial cenderung mengalami rasa tertekan atau depresi.
Masalah Finansial
Kekhawatiran membayar tagihan, memiliki hutang dalam jumlah besar, atau masalah finansial lainnya dapat berkontribusi pada depresi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan