Suara.com - Pemerintah saat ini tengah gencar mempromosikan kegiatan memberikan ASI pada anak. Dengan begitu pemerintah pemerintah berupaya membatasi penjualan susu formula yang beredar.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat (Dirjen Kesmas) Kemenkes Kirana Pritasari mengatakan jika tenaga kesehatan (nakes) memang dilarang mempromosikan saat memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Rumah sakit, fasilitas kesehatan, tidak boleh lakukan hal itu (promosi susu formula)," ujar Kirana dalam diskusi webinar Invest ASI Indonesia beberapa waktu lalu.
Untuk menegakkan hal ini, pemerintah meminta untuk segera melaporkan nakes yang mempromosikan susu formula, kepada pihak terkait, seperti dinas kesehatan dan BPOM daerah. Semua hal itu seperti yang telah tertuang dalam regulasi dan aturan yang sudah dibuat Kemenkes.
Menurut Kirana, produsen susu formula ini sudah diberi aturan tidak boleh promosi berlebihan kepada para ibu, seperti memberikan iming-iming hadiah, diskon, hingga produk gratis dan sebagainya.
Bahkan kata Kirana, di lokasi bencana seperti banjir atau gempa bumi donasi susu formula dihindari. Apalagi jika mengingat lokasi bencana yang tidak memungkinkan tidak ada air bersih, higienitas, fasilitas memasak air dan sebagainya.
"Jadi edukasi harus didukung sektor. Kami Kemenkes memperkuat demain (pemintaan) agar mereka (masyarakat) sadar, yang pertama dan utama adalah ASI," katanya.
Sementara jika anak lepas dari ASI eksklusif selama 6 bulan. Maka pemberian ASI tetap dilakukan tapi dibarengi dengan makanan pendamping ASI (MPASI), hingga 2 tahun.
"Setelah 6 bulan ada MPASI yang bisa kita berikan dengan makanan keluarga kita. Tidak perlu makanan lain yang harus kita beli, sama dengan makanan keluarga tapi karena anak masih usia 7 bulan 8 bulan maka sesuai kemampuan dia mencerna," tutup Kirana.
Baca Juga: Menyusui Bisa Jadi Metode Kontrasepsi Alami, Bagaimana Penjelasannya?
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala
-
Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak
-
Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi