Suara.com - Sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Pediatric menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir di dataran tinggi, yaitu ketinggian 1.524 meter di atas permukaan laut, cenderung lahir dengan tubuh yang lebih kecil, dan kemungkinan pertumbuhan anak terhambat.
Bahkan, jika anak-anak tersebut dilahirkan dalam lingkungan rumah yang ideal sesuai standar WHO, seperti memiliki cakupan kesehatan yang baik, kondisi kehidupan lebih tinggi, dan ibu yang berpendidikan tinggi, risiko tersebut tetap ada.
Pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, anak-anak lahir dengan panjang yang lebih pendek dan tetap dalam pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tinggal di kota-kota dataran rendah, demikian dalam laporan yang diterbitkan Senin (24/8), seperti dilansir dari CNN.
Studi itu mengamati data tinggi badan dari 950.000 anak di 59 negara.
"Lebih dari 800 juta orang hidup di ketinggi 1.500 meter di atas permukaan laut atau lebih tinggi, dengan dua pertiga dari mereka di Afrika Sub-Sahara, dan Asia," kata rekan penulis studi Kalle Hirvonen, peneliti senior di International Food Policy Research Institute.
Namun, ada sejumlah kota di Amerika Serikat yang berada di atas ketinggian 1.500 mdpl, termasuk Butte, Montana; Cheyenne, Jackson dan Laramie, Wyoming; Flagstaff, Arizona; Las Vegas, Albuquerque dan Santa Fe, New Mexico; Danau Mammoth, Danau Big Bear dan Danau Tahoe Selatan di California; dan sekitar 37 kota di Colorado.
Selain pertumbuhan yang melambat, studi tersebut juga menemukan bahwa melahirkan di dataran tinggi lebih berisiko mengalami kematian.
Sebagian besar risiko terjadi pada periode menjelang dan setelah kelahiran. Kemungkinan kondisi itu disebabkan oleh kadar oksigen yang lebih rendah di tempat yang lebih tinggi.
"Kehamilan di dataran tinggi ditandai dengan hipoksia kronis, atau suplai oksigen yang tidak memadai, yang secara konsisten dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi dari hambatan pertumbuhan janin," kata Hirvonen.
Baca Juga: 5 Jenis Sayur Terbaik untuk Anak yang Wajib Moms Siapkan
Diperkirakan bahwa adaptasi genetik untuk tinggal di dataran tinggi selama beberapa generasi dapat mengurangi stunting, tetapi studi tersebut tidak menunjukkan hal itu, kata Hirvonen.
"Setelah lahir, kurva pertumbuhan untuk anak-anak di daerah 1.500 mdpl atau lebih secara konsisten lebih rendah," tertulis dalam hasil studi tersebut.
Peneliti menyarankan agar para tenaga kesehatan lebih mmeberikan edukasi kepada wanita hamil untuk mengontrol efek ketinggian ini pada janinnya.
"Langkah pertama adalah mengungkap hubungan kompleks yang menghubungkan ketinggian, hipoksia, dan pertumbuhan janin," kata rekan penulis studi Kaleab Baye direktur Pusat Ilmu Pangan dan Nutrisi di Addis Ababa, Ethiopia.
"Jika anak-anak yang tinggal di ketinggian, rata-rata, lebih kerdil dibandingkan teman-teman mereka di permukaan laut, maka diperlukan upaya yang lebih signifikan untuk mengatasi stunting di dataran tinggi," tambah Hirvonen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- 5 Pilihan Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah, Kualitas Awet dan Hemat Listrik
Pilihan
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
Terkini
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026