Suara.com - Medical Check Up (MCU) atau uji kesehatan menyeluruh identik dengan tindakan kesehatan yang dilakukan oleh orang dewasa muda atau orang lanjut usia. Tapi apakah anak-anak juga perlu melalukan MCU?
Menurut seorang dokter patologi klinik dari Rumah Sakit Santo Carolus, dr. Bettia M Bermawi SpPK, dalam beberapa kasus, MCU bagi anak cukup diperlukan. Beberapa uji kesehatan yang diperlukan anak diantaranya adalah;
1. Pemeriksaan hematologi
Kata Bettia, ada hubungan antara masalah anemia dengan tingkat kepintaraan anak. "Masalah anemia ada pada nutrisi," tambahnya saat berbicara di hadapan media beberapa waktu lalu.
Pemeriksaan paling sederhana adalah melakukan pemeriksaan hematologi menyeluruh meliputi sel darah putih, sel darah merah, dan platelet. Kata Bettia, jika orangtua melihat anak memiliki masalah mengikuti pelajaran di sekolah, baiknya melakukan pemeriksaan hematologi untuk mendapatkan solusi.
2. Diagnosis obesitas
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO, Indonesia termasuk negara dengan tingkat pertumbuhan kegemukan atau obesitas anak-anak tertinggi di Asia-Pasifik.
Menurut data Riskedas tahun 2013, tingkat kegemukan secara nasional pada anak usia 5 sampai 12 tahun masih tinggi yaitu sebesar 18,8 persen. Untuk itu, penting bagi orangtua untuk membawa buah hati mereka yang memiliki berat badan berlebih dan melakukan diagnosis obesitas.
Dokter akan mencari tahu riwayat kesehatan dan memeriksa kondisi fisik anak. Pemeriksaan fisik sendiri meliputi mengukur tinggi badan dan berat badan, memeriksa tanda vital seperti suhu tubuh, detak jantung, dan tekanan darah, serta pemeriksaan kondisi organ lainnya, seperti paru-paru, jantung, lambung dll.
3. MCU ketika anak tak kunjung memasuki masa pubertas
Kata Bettia, beberapa anak mengalami masalah puber entah itu terlalu cepat atau malah terlambat. Untuk mencari tahu penyebab dan menekan masalah jangka panjang, Bettia menyarankan orangtua yang memiliki anak terlambat memasuki masa pubertas untuk melakukan MCU.
Selanjutnya, dokter dapat memberikan solusi mulai dari terapi hormon seks sampai terapi hormon pertumbuhan. "Sering kali dengan pengecekan akurat dan tepat, bisa diintevensi dengan cepat. Anak pun mendapat manfaat. Jangan menunggu mereka dewasa karena penyakit jantung udah mulai menimpa orang yang semakin muda," tutupnya.
Baca Juga: Hasil Studi: Lahir di Dataran Tinggi, Pertumbuhan Anak Berisiko Terhambat
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa