Suara.com - Jumlah penduduk berusia lanjut atau lansia diprediksi meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lansia adalah seseorang yang mencapai 60 tahun ke atas.
Menurut data yang dipaparkan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri, Dr. dr. Purwita Wijaya Laksmi, Sp.PD-KGer, diprediksi ada 20 persen lansia dari total penduduk Indonesia pada 2045. Padahal di 2000, jumlah lansia hanya tujuh persen.
Menurut Purwita, tingginya jumlah lansia jangan sampai menjadi beban keluarga bahkan pemerintah. Jadi sangat penting para lansia untuk memiliki sehat jiwa dan raga yang sehat.
"Lansia dengan proses menua sukses, tidak hanya berarti sehat jiwa dan raga namun juga memiliki kemampuan aktivitas fisik, daya pikir, dan hubungan interpersonal atau interaksi sosial yang baik, serta kehidupan yang produktif," ujar Dr. dr. Purwita Wijaya Laksmi, Sp.PD-KGer, Selasa (8/9/2020).
Kata Puwita, lansia harus menjalankan panduan BAHAGIA. BAHAGIA berarti Berat badan dijaga, Atur makanan seimbang, Hindari faktor risiko, Agar tetap berguna kembangkan hobi, Gerak badan teratur, Iman dan takwa ditingkatkan, serta Awasi kesehatan secara periodik.
Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah Bintaro Jaya itu juga mengingatkan, tidak seperti orang yang lebih muda yang mudah untuk menerima informasi, lansia harus mendapat penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami terutama mengenai isu pandemi Covid-19.
"Semua kelompok usia berisiko untuk terinfeksi Covid-19, namun lansia berisiko lebih tinggi terkena infeksi dan kematian akibat Covid-19. Hal ini disebabkan karena proses menua pada sistem kekebalan tubuh membuat daya tahan tubuh relatif menjadi lebih rendah," jelas Purwita.
"Selain itu, lansia umumnya telah memiliki berbagai penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penurunan fungsi ginjal, dan penyakit paru obstruksi kronik yang meningkatkan risiko komplikasi penyakit," sambungnya.
Masalah lain, pandemi membuat orang harus memakai masker sehingga menyulitkan orang untuk berkomunikasi dengan para lansia.
Baca Juga: Catat! 5 Panduan Perjalanan Bagi Lansia dari WHO
Apalagi kemampuan mendengar lansia yang mulai berkurang, membuat lawan bicara harus menggunakan bahasa non-verbal.
Perhatikan posisi lawan bicara, dengan jarak aman tapi tetap dalam jangkauan pandang mereka, pastikan juga untuk menjaga kontak mata yang juga bisa membantu penjelasan.
"Bicara dengan melihat mata lawan bicara, tubuh condong ke lawan bicara, serta menjaga intonasi dan volume suara yang tepat perlu dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan mendengarkan dan mencegah timbulnya gangguan komunikasi," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini