Suara.com - Isu kesehatan mental dan juga bunuh diri masih kerap dipandang sebelah mata di Indonesia. Padahal, jumlah mereka yang meninggal karena bunuh diri juga tidak bisa dibilang sedikit.
Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI pada Oktober 2019 lalu menyebut angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 0,71 persen di setiap 100.000 penduduk, yang berarti 1,800 jiwa per tahun.
Meski demikian masih kerap banyak yang tidak tahu atau bahkan menyepelekan ketika ada orang yang ingin bunuh diri. Penting untuk mengetahui tanda tersebut untuk bisa memberikan bantuan.
Dilansir dari Healthline, tidak selalu mudah untuk mengidentifikasi ketika seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Namun, beberapa tanda peringatan dari luar bahwa seseorang mungkin berniat bunuh diri meliputi:
- Berbicara tentang perasaan putus asa, terjebak, atau sendirian
- Mengatakan mereka tidak punya alasan untuk terus hidup
- Membuat wasiat atau memberikan harta pribadi
- Mencari cara untuk menyakiti diri sendiri, seperti membeli senjata
- Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
- Makan terlalu sedikit atau makan terlalu banyak, mengakibatkan kenaikan atau penurunan berat badan yang signifikan
- Terlibat dalam perilaku sembrono, termasuk konsumsi alkohol atau obat-obatan yang berlebihan
- Menghindari interaksi sosial dengan orang lain
- Mengungkapkan kemarahan atau niat untuk membalas dendam
- Menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau kegelisahan yang ekstrim
- Mengalami perubahan suasana hati yang dramatis
- Berbicara tentang bunuh diri sebagai jalan keluar
Memang terasa menakutkan, tetapi mengambil tindakan dan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan seseorang dapat membantu mencegah upaya bunuh diri atau kematian.
Jika Anda curiga bahwa anggota keluarga atau teman mungkin mempertimbangkan untuk bunuh diri, bicarakan dengan mereka tentang kekhawatiran Anda.
Anda dapat memulai percakapan dengan mengajukan pertanyaan dengan cara yang tidak menghakimi dan tidak konfrontatif.
Bicaralah secara terbuka dan jangan takut untuk mengajukan pertanyaan langsung, seperti "Apakah Anda berpikir untuk bunuh diri?"
Selama percakapan, pastikan Anda:
Baca Juga: Jaga Kesehatan Mental, Ini Pentingnya Me Time di Tengah Pandemi
- Tetap tenang dan bicaralah dengan nada meyakinkan
- Akui bahwa perasaan mereka masuk akal
- Menawarkan dukungan dan dorongan
- Beri tahu mereka bahwa bantuan tersedia dan mereka dapat merasa lebih baik dengan pengobatan
Pastikan untuk tidak menganggap remeh masalah mereka atau mencoba mempermalukan mereka sehingga berubah pikiran. Mendengarkan dan menunjukkan dukungan Anda adalah cara terbaik untuk membantu mereka.
Anda juga dapat mendorong mereka untuk mencari bantuan dari seorang profesional. Tawarkan untuk membantu mereka menemukan penyedia layanan kesehatan, melakukan panggilan telepon, atau pergi bersama mereka ke pertemuan pertama.
Ini bisa menakutkan ketika seseorang yang Anda sayangi menunjukkan tanda-tanda bunuh diri. Tetapi sangat penting untuk mengambil tindakan jika Anda berada dalam posisi untuk membantu. Memulai percakapan untuk mencoba membantu menyelamatkan nyawa adalah risiko yang layak diambil.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan