Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 tidak hanya menyulitkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Apalagi kondisi ini menekan mereka yang harus tinggal di rumah sepanjang hari, belajar dari jarak jauh dan tidak bisa beraktivitas sosial secara normal.
Kondisi seperti itu bisa memperburuk gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) pada anak-anak, termasuk kelompok anak-anak yang sebelumnya tidak takut kuman.
"Ritual dan obsesi mereka menjadi lebih buruk karena kesehatan mentalnya yang semakin buruk," ujar Suzan Song, direktur Divisi Psikiatri Anak/Remaja & Keluarga di Universitas George Washington dikutip dari The Washington Post.
Ketakutan akan kontaminasi dan penyakit ini sangat umum di antara orang yang menderita OCD. Tapi, Joseph McGuire, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Johns Hopkins Medicine mengatakan biasanya kekhawatiran mereka tidak sejalan dengan ancamannya.
Ia juga melihat gejala virus corona Covid-19 muncul kembali pada banyak pasien ang mendapat perawatan medis di masa lalu dan membutuhkan penyegaran.
"Di dunia pasca Covid-19 ini, Anda mendengar banyak dari media dan para ilmuwan mengatakan ini adalah ketakutan yang nyata," jelasnya.
Hal itu yang memberikan validitas pada pikiran obsesif yang mengganggu telah muncul di kepala Anda selama beberapa waktu.
Anak-anak dengan OCD cenderung memiliki pemikiran yang kaku ketika berbicara tentang normal kebersihan baru di tengah pandemi virus corona.
Song mengatakan beberapa pasien OCD mengaku kecemasannya berkurang ketika awal pandemi virus corona. Karena, lebih banyak orang di dunia mengenali ancaman tersebut.
Baca Juga: Waspada! Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia Kini Nyaris Sentuh 100 Ribu
"Saya tahu bahwa orang lain menanganinya. Jadi, bebannya bukan pada saya," ujarnya.
Tapi setelah tiga bulan, tingkat kecemasan dan depresi pasien OCD justru meningkat dengan aturan kehidupan baru di tengah pandemi virus corona Covid-19.
Sebelumnya, tanda-tanda OCD ini biasanya muncul di masa kanak-kanak, antara usia 8 hingga 12 tahun. Menurut International OCD Foundation, gejala OCD ini biasanya akan bertahan hingga masa dewasa.
Song lantas mengambil pendekatan untuk terapi eksposur dan pencegahan respons dengan menganalisis berbagai langkah ritual OCD anak dan seberapa menyusahkan kondisinya sekarang.
Pasien OCD merasa paling nyaman ketika membenahi ritualnya agar lebih tenang dan tidak stres menghadapi pandemi virus corona. Karena, hal itulah yang memperburuk OCD-nya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar