Suara.com - Mantan Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019 Nila Moeloek menyoroti efek Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) awal-awal pandemi Covid-19.
Ia melihat dampaknya sangat baik untuk lingkungan, dari langit yang lebih cerah dan udara lebih bersih.
"PSBB tinggal di rumah saja, udara lebih biru dan bersih, ada foto-foto yang dishare memperlihatkan fenomena itu. Banyak tinggal di rumah transportasi berkurang, lapisan ozon tertutup kembali, artinya terjadi restorasi bumi, sistem bumi tidak terganggu kerusakan lingkungan," ujar Nila dalam acara 'Cegah Deforestasi Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat ' bersama Madani dan Tempo, Kamis (24/9/2020).
Meski hanya sebentar PSBB secara ketat diterapkan, menurutnya dampaknya sangat luar biasa bagi lingkungan.
Namun disayangkan banyak orang sudah kembali keluar rumah berlibur maupun menggunakan kendaraan yang bisa kembali merusak kualitas udara.
"Kita mengalami efek rumah kaca, panas bumi tidak dapat kembali ke atmosfer ketahan, sehingga panas kembali ke bumi, banyak gas rumah kaca yang berbahaya, bumi panas ini disebabkan efek rumah kaca, suhu bumi semakin panas," jelas guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Nila sangat setuju jika ulah manusia sendirilah yang merusak lingkungan dan menjadi bumerang bagi kesehatan manusia, termasuk ancaman virus dan penyakit seperti Covid-19. Masih banyak masyarakat yang belum sadar tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Pada 2015, Kementerian Kesehatan merencanakan dengan perubahan perilaku komunitas sadar kesehatan, masyarakat sadar kesehatan kini sudah lebih dari 20 persen, mereka menyadari perilaku merusak lingkungan bisa merugikan kita semua," papar Nila.
Ia melanjutkan, tindakan yang bisa dilakukan untuk menjaga alam sehingga tidak menghasilkan virus dan penyakit adalah dengan mempertahankan ekosistem alam.
Baca Juga: Dokter Paru Imbau Masyarakat Tetap Pakai Masker di Rumah, Ini Alasannya!
Misalnya keberadaan hutan, tumbuhan tidak ditebang, hingga binatang yang hidup di dalamnya tidak diburu. Dengan demikian ekosistem alam tetap terjaga.
"Ini adalah strategi kesehatan agar bakteri dan virus, patogen tidak terkena manusia. Mereka akan berinteraksi pada manusia jika lingkungan diganggu, suatu transmisi infeksi, bakteri atau virus zat-zat berbahaya bisa mengganggu," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak