Suara.com - Kanker paru-paru bis aterjadi akibat udara yang dihirup. Yayasan Kanker Paru-paru yang didirikan oleh Profesor Ray Donnelly, pun berusaha meningkatkan kesadaran semua orang mengenai penyakit mematikan tersebut.
Sebab, tidak ada sensor rasa sakit di dalam paru-paru yang bisa mendeteksi seseorang sedang menderita kanker. Jadi, seseorang perlu menyadari ada sesuatu yang salah dari caranya bernapas.
British Lung Foundation mengatakan seseorang mungkin tidak sadar ada yang salah dengan pernapasannya. Saat Anda menarik napas, udara mengalir melalui hidung atau mulut dan masuk tenggorokan.
Saat itulah Anda bisa memasok udara dari paru-paru kiri dan kanan, termasuk kantung udara kecil. Namun, udara bukanlah satu-satunya hal yang mungkin Anda hirup, Anda juga bisa menghirup asap beracun.
Yayasan Kanker Paru-paru Roy Castle pun telah merinci faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker paru-paru paling umum di dunia.
Merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru, tapi itu bukan satu-satunya racun yang bisa membahayakan paru-paru. Sekitar 28 persen kanker paru-paru tidak disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Perokok pasif juga bisa berisiko menderita kanker paru-paru, karena seseorang tidak bisa menghindari asapnya ketika berjalan-jalan di pusat kota atau ruang publik.
Zat berisiko lainnya yang bisa dihirup adalah asap diesel, bahan bakar untuk mobil yang masih tersedia sampai sekarang. Namun, ada bukti yang bertentangan mengenai solar bisa menyebabkan kanker paru-paru.
"Beberapa penelitian telah menemukan bahwa paparan gas diesel dalam jangka panjang dan berat bisa menyebabkan kanker paru-paru pada hewan percobaan," kata American Cancer Society dikutip dari Express.
Baca Juga: Sering Mendengkur saat Tidur? Hati-hati Risiko Serangan Jantung
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan solar tidak dianggap beracun. Sehingga paparan jangka pendek mungkin tidak akan menyebabkan kanker paru-paru.
Zat lain yang bisa memicu kanker paru-paru adalah asbes dan gas radon. Jika seseorang menghirup asbes secara langsung, itu bisa berdsaran di jaringan paru-paru yang bisa mengakibatkan kanker.
WHO menambahkan gejala seseorang menderita kanker paru-paru akibat asbes mungkin memerlukan lebih dari satu dekade untuk terlihat.
"Asbes bisa ditemukan pada setiap bangunan industri atau tempat tinggal yang sudah dibangun," jelasnya.
Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) mencatat bahwa gas radon adalah gas radioaktif alami yang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Gas radon ini terperangkap di dalam ruangan setelah memasuki gedung melalui retakan dan lubang lain di pondasi.
Adapun gejala kanker paru-paru paling umum menurut NHS, termasuk batuk berkepanjangan, infeksi dada berulang dan batuk darah.
Tanda-tanda lain dari penyakit ini termasuk sesak napas yang terus-menerus dan rasa sakit atau nyeri saat bernapas atau batuk.
Berita Terkait
-
Tragedi Asap Rokok di Ciganjur: Tak Terima Diingatkan, 'Koboi Jalanan' Tusuk Warga dan Juru Parkir
-
Bongkar 6 Nyawa yang Masih Terjebak, Adian Ingatkan Sejarah Kelam 'Asap Pengusir' di Pongkor
-
Tragedi Terra Drone: Kenapa 22 Karyawan Tewas? Mendagri Siapkan Solusi Aturan Baru
-
Atap Asbes Bisa Picu Kanker, Ini 5 Alternatif Lain yang Lebih Aman dan Awet
-
Bukan Cuma Kulit Kusam! Ini 5 Rahasia Kecantikan Wanita Modern yang Bebas Asap Rokok
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi