Suara.com - Dibangunnya jaringan 5G mulanya memang kerap menimbulkan kontroversi. Bermula dari anggapan radiasi tower 5G yang berbahaya bagi kesehatan hingga disangkutpautkan dengan virus corona Covid-19.
Secara umum, papran gelombang radio atau teknologi nirkabel seperti 5G memang memiliki konsekuensi kesehatan tertentu. Melansir dari South China Morning Post (SCMP), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa ada konsekuensi kesehatan potensial yang disebabkan oleh terknologi tersebut.
Penggunaan ponsel dengan jaringan internet atau koneksi telepon dalam jangka panjang nyatanya bisa berefek pada kesehatan. Bahkan menurut WHO bisa meningkatkan risiko kanker akibat radiasi dari ponsel. Meskipun begitu WHO mengakui bahwa hanya sedikit penelitian yang mengamati frekuensi yang akan digunakan oleh 5G.
Selain itu ponsel, tablet, dan mainan yang terhubung internet dikhawatirkan dapat berdampak pada kemampuan kognitif anak-anak. Hal ini dinyatakan oleh Badan Pangan, Kesehatan Lingkungan, dan Keselamatan Kerja (ANSES) Prancis.
Ketika gelombang radio menghantam tubuh, efek biologis utamanya adalah memanaskan jaringan tubuh.
"Tingkat paparan frekuensi radio dari teknologi saat ini menghasilkan kenaikan suhu yang dapat diabaikan dalam tubuh manusia," kata WHO di situs webnya.
"Asalkan paparan keseluruhan tetap di bawah pedoman internasional, tidak ada konsekuensi bagi kesehatan masyarakat secara signifikan" tambahnya.
Tetapi menurut ahli ANSES, Olivier Merckel menunjukkan bahwa ada efek biologis tertentu yang sangat spesifik terkait paparan radiasi, khusunya gangguan tidur dan stres. Namun pihak ANSES menyatakan bahwa masih sedikit informasi terkait paparan 5G.
Jaringan 5G saat ini menggunakan frekuensi yang dekat dengan kotak WiFi, namun pada akhirnya akan menggunakan frekuensi yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Waduh! Bahaya Cahaya Biru Smartphone bagi Kulit, seperti Matahari
Dengan meningkatnya frekuensi, gelombang radio kurang mampu menembus tubuh, sehingga paparan gelombang radio terbatas pada kulit dan mata.
Pada tahun 2012, ANSES mengevaluasi pemindai badan bandara yang menggunakan frekuensi 5G dan tidak menemukan risiko kesehatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan