Suara.com - Sementara banyak negara di dunia mencapai titik tertinggi kasus virus corona Covid-19, Taiwan menggarisbawahi keberhasilannya dalam mengendalikan virus. Tercatat negara ini telah mencapai rekor 200 hari tanpa kasus Covid-19 yang ditularkan di dalam negeri atau transmisi lokal.
Dilansir dari The Guardian, negara itu dilaporkan hanya mengalami tujuh kematian dari 553 kasus Covid-19 sejak pandemi dimulai. Angka tersebut menjadikan Taiwan lebih sukses daripada negara lain dan menjadi teladan untuk menahan laju penyebaran virus, termasuk Selandia Baru dan Vietnam.
Keberhasilan Taiwan menangani pandemi Covid-19 tak terlepas dari pemerintah yang bertindak lebih awal untuk menghentikan penyebaran penyakit, melakukan tindakan pengendalian yang ketat, termasuk dua minggu karantina bagi siapa pun yang bepergian, dan mencurahkan sumber daya untuk pengujian dan pelacakan.
Tanggapan pemerintah Taiwan pun terbantu dengan memiliki seorang ahli epidemiologi sebagai wakil presiden dan sistem kesehatan masyarakat yang sangat baik.
Pemeriksaan terhadap para pelancong yang datang dari Wuhan, China, tempat epidemi dimulai dilakukan pada 31 Desember. Tepat setelah otoritas kesehatan Wuhan memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa mereka sedang menangani kasus pneumonia virus yang tidak diketahui asalnya.
"Taiwan adalah satu-satunya negara besar yang sejauh ini mampu mencegah penularan Covid-19 dari komunitas," kata Peter Collignon, seorang dokter penyakit menular dan profesor di Sekolah Kedokteran Universitas Nasional Australia, dikutip dari Time Magazine.
Taiwan mungkin mendapatkan hasil terbaik di seluruh dunia, katanya, dan "bahkan lebih mengesankan" untuk ekonomi dengan populasi yang kira-kira sama dengan Australia, dengan banyak orang yang tinggal berdekatan di apartemen.
Meski begitu, Taiwan belum keluar dari kesulitan karena tercatat 20 kasus virus corona Covid-19 impor dalam dua minggu terakhir, kebanyakan dari negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Indonesia. Dan negara lain yang pada awalnya melawan virus dengan baik, seperti Singapura dan Jepang, kemudian mengalami lonjakan kasus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
Terkini
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?