Bisnis / Keuangan
Jum'at, 23 Januari 2026 | 18:02 WIB
Pramuniaga menunjukkan emas batangan di sebuah gerai Galeri 24, Jakarta, Jumat (9/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Emas diprediksi tembus USD 10.000 pada 2030 akibat tren dunia tinggalkan Dolar AS.
  • Target emas tahun 2026 capai USD 5.400, didorong tensi geopolitik dan aksi beli Bank Sentral.
  • Harga emas Antam meroket Rp90.000 menjadi Rp2.880.000/gram, catat rekor baru dalam negeri.

Suara.com - Investasi emas kini bukan lagi sekadar pelindung nilai, melainkan magnet utama pasar modal global.

Pakar keuangan dan praktisi pasar modal, Dr. Hans Kwee, memproyeksikan harga emas dunia akan meroket hingga USD 10.000 per troy ons pada tahun 2030 mendatang. Jika dikonversi dengan kurs saat ini, angka tersebut setara dengan Rp168,38 juta.

Dalam acara edukasi pasar modal yang digelar Jumat (23/1/2026), Hans Kwee menjelaskan bahwa untuk tahun ini saja, target harga emas berada di level USD 5.400. Tren kenaikan ini didorong oleh fenomena

"Dedolarisasi" sebuah kondisi di mana dunia mulai meninggalkan dolar AS pasca-konflik Ukraina-Rusia dan kebijakan perang dagang Donald Trump.

"Dunia menyadari kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada dolar lagi. Bank sentral di berbagai negara terus memborong emas karena mereka mencari aset yang lebih aman," ujar Hans.

Sentimen global ini langsung berdampak signifikan di dalam negeri. Harga emas batangan Antam mencatatkan lonjakan tajam sebesar Rp90.000, membawa harga per gramnya ke posisi Rp2.880.000. Kenaikan ini juga diikuti oleh harga buyback yang kini bertengger di angka Rp2.715.000 per gram.

Lembaga keuangan internasional seperti Bank of America dan Goldman Sachs pun seirama, memprediksi pertumbuhan harga emas setidaknya 20% sepanjang tahun ini di tengah tingginya tensi geopolitik dan risiko pelemahan ekonomi global.

Load More