Bisnis / Energi
Sabtu, 24 Januari 2026 | 17:08 WIB
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno [Suara.com/Achmad Fauzi].
Baca 10 detik
  • Timah dunia naik drastis dari US$ 33.000 ke US$ 51.000 per ton akibat faktor Indonesia.
  • Kenaikan harga dipicu hilangnya pasokan ilegal ke Malaysia dan Singapura.
  • Meski produksi hanya 50.000 ton/tahun, kendali Indonesia atas pasar gelap tekan suplai global.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai lonjakan drastis harga timah dunia yang meroket dari US$ 33.000 menjadi US$ 51.000 per ton merupakan dampak langsung dari kebijakan dan kondisi domestik Indonesia.

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa meskipun volume produksi timah Indonesia berada di kisaran 50.000 ton per tahun, pengaruh Indonesia terhadap volatilitas harga sangatlah dominan.

"Harga timah saat ini di angka US$ 51.000. Saya masih meyakini bahwa ini karena dari Indonesia. Pengaruh harga ini dari Indonesia," ujar Tri Winarno dalam acara Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2026).

Faktor utama di balik kenaikan harga ini bukanlah sekadar angka produksi legal, melainkan keberhasilan pemerintah dalam memberantas jalur ilegal. Tri menjelaskan bahwa pasokan timah dunia mengetat karena penyelundupan dari Indonesia ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura kini telah terhenti.

"Market gelap untuk timah ini sama sekali sudah berakhir dengan adanya kondisi saat ini," tambahnya.

Langkah tegas aparat keamanan pada tahun 2025, seperti penggagalan penyelundupan 5 ton pasir timah di perairan Bangka Barat menuju Malaysia, menjadi sinyal kuat berakhirnya era kebocoran sumber daya alam. Hilangnya pasokan "ilegal" yang selama ini membanjiri pasar luar negeri memaksa harga dunia menyesuaikan diri dengan ketersediaan stok yang sebenarnya (resmi).

Load More