- Produksi ASI sangat dipengaruhi hormon (prolaktin dan oksitosin); stres menghasilkan kortisol yang menghambat pengeluaran ASI.
- Edukator laktasi menekankan menyusui mudah jika ibu disiapkan dengan pemahaman fisiologi, bukan hanya booster instan.
- Ketenangan ibu penting, didukung lingkungan suportif yang menghindari ucapan memicu kecemasan, berdampingan nutrisi tepat.
Suara.com - Menyusui kerap dianggap sebagai proses yang otomatis terjadi setelah melahirkan. Padahal, di balik aktivitas yang terlihat alami ini, ada kerja kompleks hormon, kondisi fisik ibu, hingga faktor psikologis yang sangat menentukan kelancaran ASI.
Banyak ibu baru merasa cemas: ASI cukup atau tidak, bayi kenyang atau tidak, berat badan naik atau justru turun. Tanpa disadari, kecemasan ini justru bisa menjadi penghambat utama produksi ASI.
Secara fisiologis, produksi dan pengeluaran ASI sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin.
Ketika ibu merasa stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat menghambat kerja oksitosin, hormon yang berperan penting dalam refleks pengeluaran ASI.
Artinya, semakin ibu tertekan dan tidak tenang, semakin sulit ASI keluar dengan optimal. Di sinilah ketenangan bukan sekadar kondisi emosional, tapi bagian penting dari proses menyusui itu sendiri.
"Menyusui Itu Mudah Kalau Ibunya Disiapkan”
Hal ini juga ditegaskan oleh dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, atau yang akrab dikenal sebagai dr. Tiwi, Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus edukator laktasi. Menurutnya, menyusui sebenarnya bukan hal yang rumit, selama ibu dipersiapkan dengan pemahaman yang benar.
“Menyusui itu sebenarnya mudah kalau ibunya disiapkan. Saya sangat men-support semua produk yang mendukung ibu, tapi yang penting banget hormon itu harus bekerja,” jelas dr. Tiwi di RSIA Bunda Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Ia menekankan bahwa suplemen atau ASI booster bukanlah solusi instan yang bekerja tanpa proses. Banyak ibu memiliki ekspektasi bahwa setelah mengonsumsi produk pelancar ASI, ASI akan langsung keluar deras. Padahal, tubuh ibu bekerja berdasarkan sistem hormonal yang membutuhkan kondisi pendukung.
Baca Juga: 7 Skincare yang Harus Dihindari Ibu Hamil dan Menyusui: Bisa Membahayakan Janin
“Ibu harus memahami fisiologi badan seorang hamil dan melahirkan, juga fisiologi bayinya. Baru produk-produk seperti ini bisa bekerja. Kalau tidak, ya tidak akan bisa, karena ini kerjanya hormon,” lanjutnya.
Tak heran, dr. Tiwi sangat menekankan pentingnya ketenangan selama masa menyusui. Bahkan, menurutnya, ketenangan ini bukan hanya tanggung jawab ibu, tapi juga lingkungan di sekitarnya.
“Bukan hanya ibu yang harus tenang. Tim medis, keluarga, semua harus mendukung. Jangan mengeluarkan kata-kata yang bikin ibu makin gelisah seperti ‘bayinya kuning’ atau ‘berat badannya kurang’. Karena ibu itu biasanya sudah cemas duluan.”
Lingkungan yang suportif akan membantu ibu “membiarkan” hormon-hormon bekerja secara alami, tanpa tekanan, tanpa rasa takut berlebihan.
Ketenangan, Nutrisi, dan Dukungan yang Tepat
Selain faktor psikologis, kesiapan nutrisi juga menjadi bagian penting dari perjalanan menyusui. dr. Gorga I V W Udjung, Sp.OG, menegaskan bahwa ibu hamil dan menyusui perlu mempersiapkan tubuhnya sejak awal dengan nutrisi yang komprehensif, mulai dari mikronutrien esensial, Omega-3, hingga pola hidup sehat. Kombinasi ini diyakini menjadi fondasi awal yang baik untuk mendukung pertumbuhan optimal bayi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Menanti Kabar, Ini Sosok Dua Istri Pilot Andy Dahananto Korban Kecelakaan ATR 42-500
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung