Suara.com - Alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh mengira alergen sebagai unsur asing berbahaya.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, 8 jenis makanan dapat menyebabkan lebih dari 90 persen reaksi alergi. Seperti susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, ikan, kerang, kedelai, dan gandum.
Selain makanan, ada banyak alergen yang tidak biasa. Dilansir Live Science, berikut empat alergen paling aneh di dunia.
1. Air mani
Tidak hanya wanita, ada juga laki-laki yang alergi terhadap air mani mereka sendiri.
Peneliti Belanda melaporkan dua kasis sindrom penyakit postorgasmic dalam Journal of Sexual Medicine edisi Januari.
Dalam kedua kasus tersebut, mereka mengalami gejala alergi di sekitar mata dan hidung, serta mengalami penyakit seperti flu sementara dalam hitungan detik, menit atau jam setelah berhubungan seks, masturbasi atau ejakulasi.
Alergi mereka diobati dengan terapi hiposensitisasi, pengobatan dengan menyuntikkan sejumlah kecil alergennya.
Pada kasus ini, sang pria disuntik air maninya sendiri dari waktu ke waktu dengan dosis yang meningkat secara bertahap.
Baca Juga: Mau Tingkatkan Hormon Bahagia? Olahraga dan Makan dengan Benar Kuncinya!
Peneliti mengatakan alergi kedua pria mengalami perbaikan setelah tiga tahun pengobatan.
2. Hormon wanita
Sejumlah wanita menderita kondisi Autoimmune progesterone dermatitis (APD), kelainan kulit yang diperburuk oleh hipersensivitas progesteron selama fase luteal dari siklus menstruasi, yang terjadi setelah ovulasi.
APD biasanya terjadi selama kehidupan dewasa dan jarang saat kehamilan atau periode pascamenopause.
Kasus tipikal dilaporkan dalam European Journal of Dermatology pada 2002.
Seorang wanita berusia 27 tahun dirawat di klinik karena gatal di wajah, selalu dimulai sekitar tiga hari sebelum menstruasi dan menghilang dalam tujuh hari. Lesi kulitnya akan hilang dengan sendirinya tanpa tanda sisa sampai siklus berikutnya.
3. Air
Orang dengan kondisi yang disebut aquagenic urticaria ini sering mengalami gatal-gatal parah dalam waktu lima menit setelah bersentuhan dengan air, terlepas dari sumbernya. Sedangkan lesi yang muncul berlangsung selama 30 menit.
Sekitar 30 kasus ini telah dipublikasikan dalam literatur medis, dan mekanisme dari kondisi langka ini masih belum diketahui.
Menurut studi kasus pada 1998 di Annals of Allergy, Asthma and Immunology, kadar histamin yang biasanya menjadi penyebab alergi sebenarnya tidak berubah selama reaksi terjadi. Itu membuat reaksi alergi sulit diobati atau dicegah dengan obat antihistamin.
4. Larutan garam
Larutan garam terdiri dari natrium klorida dan air. Larutan garam dianggap sebagai zat jinak, dan sering dialirkan melalui pembuluh darah kepada pasien yang berisiko dehidrasi.
Namun, dalam kasus yang dilaporkan pada American Journal of Emergency Medicine pada 2009, seroang wanita Turki berusia 37 tahun mengembangkan reaksi anafilaksis terhadap infus garam normal saat ia dirawat untuk nyeri perut akut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi