Health / Konsultasi
Rabu, 11 November 2020 | 13:38 WIB
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)

Suara.com - Sebuah studi menemukan bahwa hingga 80 persen pasien Covid-19 mungkin mengalami kekurangan vitamin D. Penelitian dari Spanyol tersebut telah diterbitkan pada The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism.

Melansir dari Healthshots, penelitian ini mempelajari hubungan antara vitamin D dan Covid-19. Studi tersebut menyatakan bahwa 80 persen dari 200 pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit Spanyol mengalami kekurangan vitamin D.

"Salah satu pendekatan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengobati kekurangan vitamin D," kata rekan penulis studi. Jose L. Hernandez, Ph.D., dari University of Cantabria di Santander, Spanyol.

"Terutama pada individu berisiko tinggi seperti orang tua, pasien dengan penyakit penyerta, dan penghuni panti jompo yang merupakan populasi rentan Covid-19," imbuhnya.

Menurut Hernandez, pengobatan kekurangan vitamin D harus direkomendasikan pada pasien Covid-19 dengan kadar vitamin D rendah dalam darah. Pengobatan ini mungkin memiliki efek menguntungkan pada muskuloskeletal dan sistem kekebalan.

Tak hanya itu, pasien Covid-19 dengan kadar vitamin D lebih rendah juga mengalami peningkatan kadar penanda inflamasi serum seperti feritin dan D-dimer.

Ilustrasi suplemen vitamin D. (Shutterstock)

Vitamin D sendiri adalah hormon yang diproduksi oleh ginjal. Nutrisi ini mengontrol konsentrasi kalsium darah dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan termasuk dalam memengaruhi sistem kekbalan tubuh.

Penelitian-penelitian sebelumnya juga menunjukkan efek menguntungkan vitamin D pada sistem kekebalan tubuh terutama dalam melindungi terhadap infeksi.

Baca Juga: 298 Ribu Warga Depok akan Divaksin Corona, Plt Walkot: Belum Tahu Jenisnya

Load More