Health / Konsultasi
Rabu, 11 November 2020 | 19:47 WIB
Peneliti menunjukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Vaksin Pfizer dan BioNTech menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA) dan dirancang untuk memicu respons imun tanpa menggunakan patogen, seperti partikel virus yang sebenarnya.

Sementara vaksin Sputnik V dirancang untuk memicu respons dari dua suntikan yang diberikan dengan selang waktu 21 hari masing-masing berdasarkan vektor virus berbeda yang biasanya menyebabkan flu biasa.

Obat itu diberi nama Sputnik V setelah satelit era Soviet yang memicu kompetisi luar angkasa---sebuah isyarat pada proyek kepentingan geopolitik bagi Presiden Rusia Vladimir Putin. Rusia juga menguji vaksin yang berbeda, yang diproduksi oleh Vector Institute di Siberia, dan hampir mendaftarkan vaksin ketiga.

"Penelitian telah menunjukkan dan menegaskan bahwa, pertama, vaksin ini aman dan tidak memiliki efek samping yang serius setelah digunakan, dan kedua, semuanya efektif," kata Putin seperti dikutip kantor berita RIA, Selasa (10/11).

RDIF mengatakan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama uji coba fase III vaksin Sputnik V sejauh ini. [ANTARA]

Load More