Suara.com - Seorang narapidana pria dilarikan ke UGD Rumah Sakit Santa Maria Nuova di Florence, Italia, setelah mengeluh sakit perut, dua jam setekah ia sengaja menelan baterai AA.
Awalnya dokter menduga sang pria 26 tahun tersebut mengalami serangan jantung, meski pasien tidak mengalami gejala lain seperti sesak napas.
Pasien juga tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, dan satu-satunya faktor risiko penyakit jantungnya adalah kebiasaan merokoknya.
Selain itu, kadar troponin jantungnya, protein otot jantung yang dilepaskan ke dalam darah selama serangan jantung, juga normal.
Setelah menjalani X-ray, dokter menemukan adanya baterai di tubuh pasien. Ternyata alat elektrokardiogram (EKG), yang sebelumnya digunakan untuk memeriksa jantung pasien, menunjukkan hasil salah akibat baterai di tubuh pasien.
Setelah dokter mengeluarkan baterai, EKG kembali normal, lapor Live Science.
"Jika seseorang menelan satu baterai atau beberapa baterai, EKG dapat meniru perubahan yang sama seperti pada infark miokard, atau serangan jantung akut," jelas Guy L. Mintz, direktur kesehatan kardiovaskular dan lipidologi di Sandra Atlas Bass, Northwell Health, yang menangani pasien.
Pada pasien ini, EKG menunjukkan tanda serangan jantung yang dikenal sebagai 'elevasi segmen-ST'. Artinya, segmen tertentu di EKG yang biasanya datar malah meningkat.
Bagaimana mengonsumsi baterai bisa meniru hasil serangan jantung pada EKG?
Baca Juga: Penting Diketahui, Berikut 3 Tips Menurunkan Kolesterol oleh Ahli Jantung
Laporan yang terbit pada Senin (23/11/2020) di jurnal Annals of Internal Medicine ini menjelaskan bahwa baterai yang berkontak dengan asam lambung dapat menghasilkan arus listrik yang mengalir ke jantung dan memengaruhi EKG.
Meski pasien ini tidak benar-benar mengalami serangan jantung, menelan baterai masih mungkin dapat melukai jantung.
"Efek listrik yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan pada jantung. Menelan baterai berbahaya karena kerusakan dapat menyebabkan kebocoran bahan kimia atau bahkan gangguan usus," tambah Mintz.
Untungnya dalam kasus ini, sang pria tidak mengalami komplikasi apa pun akibat baterai di tubuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 10 Lipstik Paling Laris di Shopee Indonesia, Brand Lokal Mendominasi
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Siapkan Uang Rp100 Miliar! Orang Terkaya RI Ini Serok 84 Juta Lembar Saham saat IHSG Anjlok
-
5 HP Memori 512 GB Paling Murah, Terbaik untuk Gamer dan Kreator Konten Budget Terbatas
-
7 HP RAM 8 GB Rp2 Jutaan Terbaik dengan Baterai Jumbo, Cocok buat Multitasking dan Gaming Harian
-
IHSG Anjlok, Purbaya: Jangan Takut, Saya Menteri Keuangan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
Terkini
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital
-
Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal