Suara.com - Mengonsumsi vitamin mungkin dapat membantu mengurangi risiko Covid-19 pada perempuan. Hal ini dinyatakan oleh studi yang dilakukan para ilmuwan di balik tim aplikasi Zoe Covid Symptom Study.
Melansir dari Independent, pada awal pandemi 1,4 juta pengguna aplikasi memasukkan data tentang apakah mereka menggunakan suplemen atau tidak. Di antara kelompok ini lebih dari 445.000 didiagnosis dengan Covid-19, sementara 126.000 memiliki gejala tapi tidak terkonfirmasi.
Setelah menganalisis data dan membandingkan informasi antara mereka yang terinfeksi dan tidak terinfeksi Covid-19, para peneliti menyimpulkan bahwa suplemen multivitamin, vitamin D, omega-3, dan probiotik memiliki efek perlindungan yang sangat kecil tetapi signifikan secara statistik pada pencegahan Covid-19.
Penurunan risiko berkisar hingga 9 persen untuk vitamin D, 14 persen untuk probiotik,13 persen untuk multivitamin, dan 12 persen untuk omega 3.
Dalam hal ini dokter Cristina Menni dari King's College London dan peneliti utama aplikasi tersebut memperingatkan bahwa tim tersebut tidak dapat membuat rekomendasi suplemasi vitamin berdasarkan peneltiaian ini.
"Sampai kami memiliki bukti lebih lanjut tentang peran suplemen dari uji coba terkontrol secara acak, kami merekomendasikan mengikuti pedoman NHS tentang penggunaan vitamin sebagai bagian dari pola makan seimbang yang sehat," kata dokter Cristina Menni.
Profesor Tim Spector, dari King's juga menambahkan bahwa dengan sembrono konsumsi vitamin untuk menghindari Covid-19 mungkin tidak akan terlalu berguna jika tak mematuhi protokol kesehatan utama.
"Lebih baik Anda berfokus pada pola makan yang sehat dengan beragam sayuran dan buah-buahan segar yang seharusnya memberi semua nutrisi yang Anda butuhkan untuk sistem kekebalan yang sehat," kata profesor Spector.
Naveed Sattar, profesor kedokteran metabolik di Universitas Glasgow juga memperingatkan bahwa penelitian tersebut cukup menarik namun masih perlu studi lanjutan.
Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tak Bisa Sukses Redam Pandemi Tanpa Didukung 3M
"Data saat ini sama sekali tidak dapat menjadi landasan untuk mengonsumsi suplemen semacam dalam melindungi diri dari infeksi dari Covid- 19," ujar Profesor Sattar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI