Suara.com - Pengembang vaksin Covid-19 yang diinisiasi mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengaku sudah bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes) RI.
Hal itu diungkapkan oleh Raditya Mohammer Khadaffi, Humas PT Rama Emerald Multi Sukses atau perusahaan farmasi Rama Pharmas, sebagai pengembang vaksin nusantara. Sebelumnya Raditya mengatakan bahwa vaksin nusantara diinisiasi saat Terawan Agus Putranto masih menjadi menteri kesehatan.
Lantas, bagaimana dengan dana penelitian vaksin yang bermerek 'JogloSemar' itu, sudahkah mendapat kucuran dana Kemenkes RI?
Menurut Raditya Mohammer Khadaffi, Humas PT Rama Emerald Multi Sukses atau perusahaan farmasi Rama Pharmas, informasi terbaru yang diperolehnya saat ini dana penelitian masih berasal dari swadaya peneliti dan hasil sponsor pihak swasta.
"Kalau pembiayaan itu, detailnya masih dalam swadaya tim peneliti sendiri, sama dari sponsor. Sebetulnya dari Oktober sudah ada proses (dari pemerintah), cuma masih belum mencuat, masih kalah dengan (vaksin) yang lain," terang Raditya saat dihubungi suara.com, Selasa (18/2/2021).
Namun Raditya belum bisa memastikan lebih lanjut, apakah dana penelitian dari pemerintah untuk pengembangan vaksin nusantara diberikan atau tidak, karena keputusannya berada di naungan Balitbangkes Kemenkes RI.
Meski begitu, proses pengembangan ini masih dapat dukungan dari Balitbangkes Kemenkes RI dan DPR RI. Hal ini terbukti menurut Raditya, Kepala Balitbangkes RI dr. Slamet, MHP dan beberapa anggota DPR RI yang meninjau langsung uji klinis fase 2 di RSUP dr. Kariadi.
"(Penelitian) masih tetap berjalan. Kemarin Dokter Slamet hadir juga, intinya masih berjalan komunikasinya. Bahkan uji klinis ke-2 dan ke-3 ini tetap lanjut, tetap berjalan dan terus berjalan," papar Raditya.
"Bahkan kemarin anggota DPR RI, sudah menanyakan anggarannya kemarin, dan anggota DPR RI siap mengawal uji klinis ke-2 dan ke-3 nanti," tutup Raditya.
Baca Juga: BPOM Pastikan Pengembangan Vaksin Nusantara Terawan Sudah dalam Pengawasan
Sementara itu vaksin nusantara, kata Raditya sudah menyelesaikan fase uji klinis tahap 1 dengan jumlah peserta 30 pasien, dan sudah dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Selanjutnya vaksin nusantara, sedang menjalani uji klinis tahap 2 dan nantinya akan memasuki tahap uji klinis tahap 3, dan semua penelitian dilakukan dan berpusat di Semarang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026