Suara.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengungkapkan, terdapat keterkaitan antara kerusakan alam dengan pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini.
Ketua Walhi Indonesia, Nur Hidayati mengatakan, wabah pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini merupakan penyakit zoonosis, yang terjadi karena perusakan habitat alami hewan liar demi mengeksploitasi alam.
"Di mana habitat hewan-hewan liar dirusak, kemudian mikroorganisme yang dapat mengakibatkan penyakit berpindah inang ke manusia," jelas Nur Hidayati lewat video diskusi daring, Rabu (18/2/2021).
Hal ini, kata dia merujuk dari laporan UNEP (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa) pada 2016 yang menyebut sejumlah 60 persen penyakit menular yang ada saat ini adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kerusakan ekologik.
Di samping itu, Nur Hidayati menuturkan, kondisi ini juga semakin diperparah dengan eksploitasi alam yang meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu 1970 hingga 2017, hal ini berdasarkan data International Resource Panel (IRP) pada 2019.
“(Ini) mengakibatkan dampak negatif terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat , 90 persen pemusnahan keanekaragaman hayati dan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Aktivitas yang sama menyumbang sekitar 50 persen emisi gas rumah kaca global,” ujar Hidayati.
Oleh karenanya, Nur Hidayati menyatakan bahwa sejumlah bencana alam yang terjadi, khususnya di Indonesia bukan karena semata peristiwa alam.
“Kami melihat bencana ekologis itu sistem, bahwa terjadinya bencana itu bukanlah sesuatu bahwa bahaya- bahaya yang muncul, bukan sesuatu yang merupakan takdir atau sedemikian adanya, tapi itu adalah human made,” ujar Hidayati.
Baca Juga: Doni Monardo Targetkan Indonesia Bebas Covid-19 saat HUT RI 17 Agustus
Tag
Berita Terkait
-
WALHI Desak Pencabutan Izin Korporasi Pemicu Bencana Ekologis di Lanskap Batang Toru
-
Walhi Sumut Bongkar Jejak Korporasi di Balik Banjir Tapanuli: Bukan Sekadar Bencana Alam
-
Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Tingkatkan Ancaman Penyakit Zoonosis?
-
WALHI Kritik Rencana Prabowo Tanam Sawit dan Tebu di Papua: Tak Punya Hati dan Empati!
-
WALHI Sebut Banjir di Jambi sebagai Bencana Ekologis akibat Pembangunan yang Abai Lingkungan
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
DLH DKI Jakarta Angkut 91 Ton Sampah Sisa Perayaan Malam Tahun Baru
-
Heboh Video Bus Transjakarta Keluarkan Asap Putih di Cibubur, Manajemen Buka Suara
-
Berkat Ribuan Pasukan Oranye, Jakarta Kembali Kinclong Usai Malam Tahun Baru 2026
-
Geger! Petani di Rejang Lebong Ditemukan Tewas Tersangkut di Pohon Kopi Usai Banjir Bandang
-
Malam Tahun Baru Memanas, Tawuran Remaja Nyaris Meletus di Flyover Klender
-
Agar Negara Tak Dicap Merestui Pembungkaman Kritik, Teror ke DJ Donny dan Aktivis Lain Harus Diusut
-
Tahanan Demo Agustus 2025 Meninggal di Rutan Medaeng, Mantan Napol Desak Investigasi Independen!
-
Kebakaran Rumah Kosong di Jagakarsa Saat Warga Sambut Tahun Baru 2026
-
Kemdiktisaintek Rilis Aturan Baru No 52 2025, Jamin Gaji Dosen Non-ASN
-
Pasukan Orange Tuntaskan Bersih-Bersih Sisa Perayaan Tahun Baru Sebelum Subuh