Suara.com - Jumlah kematian selain akibat Covid-19 di China menurun selama tiga bulan pertama pada 2020. Hasil penelitian menunjukan bahwa penurunan itu karena dampak dari upaya pengendalian penularan Covid-19.
Para peneliti dari Universitas Oxford dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) menganalisis data resmi kematian sejak 1 Januari hingga 31 Maret 2020 untuk perubahan dalam kematian secara keseluruhan dan penyebab tertentu.
Tingkat kematian di Wuhan, tengah tempat virus corona pertama dilaporkan di Chian, mencapai 1.147 per 100.000 penduduk selama periode tersebut. Angka itu 56 persen lebih tinggi dari yang diperkirakan.
Sedangkan, kita di luar Wuhan tingkat kematiannya 675 per 100.000 penduduk, lebih rendah dari yang diperkirakan mencapai 715 orang. Peneliti menduga, setelah pemerintah mengeluarkan aturan penguncian nasional dampaknya juga mengurangi jumlah kematian akibat penyebab lain seperti pneumonia biasa atau kecelakaan lalu lintas, menurut penelitian yang diterbitkan oleh BMJ.
Data resmi dari otoritas medis Tiongkok menyebutkan total korban tewas Covid-19 di daratan mencapai 4.636 jiwa, di mana 83,5 persen, atau 3.869 kematian, berada di Wuhan.
China telah menolak klaim bahwa jumlah total kasus dan jumlah kematian akibat Covid-19 lebih banyak dari yang dilaporkan.
Sebuah studi Amerika tentang layanan kremasi di Wuhan yang dirilis Juni lalu mengatakan sekitar 36.000 orang meninggal, angka itu 10 kali lipat dari angka resmi yang dilaporkan.
Penelitian lokal juga menunjukkan jumlah orang yang terpapar virus mungkin jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Dikutip dari Channel News Asia, CDC China mengatakan pada bulan Desember bahwa mereka menemukan antibodi Covid-19 pada 4,43 persen sampel darah di Wuhan, menyiratkan bahwa setengah juta orang di kota tersebut telah terinfeksi.
Baca Juga: PGRI: Tidak Ada Guru yang Menolak Vaksin Covid-19 dari Pemerintah
Bulan lalu, para ahli yang dikerahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tiba di Wuhan untuk menyelidiki asal-usul virus corona. Mereka mengatakan itu bisa saja beredar di daerah lain sebelum pertama kali diidentifikasi pada awal 2020, tetapi tidak ada bukti.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya