Suara.com - Terlepas dari tren dan rumor seputar apa yang disebut vaksin paspor, Organisasi Kesehatan Dunia telah mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan pejabat transportasi bahwa izin semacam itu tidak akan menjamin para pelancong kebal dari penyebaran Covid-19 dengan satu atau lain cara.
Bukti imunisasi akan menjadi persyaratan yang diperdebatkan, karena masih ada lebih banyak “hal-hal yang tidak diketahui yang penting mengenai kemanjuran vaksinasi dalam mengurangi penularan,” tegas WHO.
"WHO juga merekomendasikan bahwa orang yang divaksinasi tidak boleh dibebaskan dari tindakan pengurangan risiko perjalanan lainnya," tulis mereka dalam pernyataan 5 Februari tentang paspor digital yang diusulkan yang menunjukkan seseorang telah divaksinasi.
Mereka juga mengecilkan kemungkinan bahwa wisatawan internasional yang berhati-hati mungkin menekan dosis vaksin virus corona yang sudah langka. Hal itu menempatkan kelompok yang kurang beruntung pada risiko paparan yang berkelanjutan dan memperpanjang periode isolasi kuncian mereka.
“Individu yang tidak memiliki akses ke vaksin Covid-19 resmi akan secara tidak adil terhalang dalam kebebasan bergerak mereka jika bukti status vaksinasi menjadi syarat untuk masuk atau keluar dari suatu negara,” tulis WHO.
"Otoritas nasional harus memilih intervensi kesehatan masyarakat yang paling tidak melanggar kebebasan bergerak individu."
Para pemimpin AS, Inggris dan Eropa lainnya telah secara terbuka mempertimbangkan program dan strategi perjalanan yang aman yang akan membuka jalan bagi rehabilitasi industri perjalanan.
Kondisi itu nantinya memungkinkan mobilitas yang lebih besar antar negara di tengah pandemi yang telah menyebabkan lebih dari 2,5 juta nyawa hilang secara global sejak musim dingin lalu. . Selain perjalanan internasional, lisensi tersebut berpotensi memungkinkan akses ke bar dan restoran.
“Saya dapat melihat bahwa mereka mungkin berguna dalam jangka panjang, tetapi saya memiliki beberapa kekhawatiran tentang mereka yang sedang dipertimbangkan pada saat ini ketika saya pikir bukti ilmiah tidak mendukungnya. Dan ada banyak masalah etika tentang mereka yang menurut saya sah, ”kata Dr. Deepti Gurdasani, ahli epidemiologi klinis di Queen Mary University of London, menurut laporan CNBC, Kamis.
Baca Juga: Cerita Petinggi PAN Cianjur 'Kebal' COVID-19 Setelah Divaksin Sinovac
“Kami hanya tahu sedikit tentang keefektifan vaksin dalam mencegah infeksi atau bahkan penyakit tanpa gejala terhadap beberapa varian yang beredar di berbagai negara,” tambah Dr. Gurdasani.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga