Suara.com - Pandemi Covid-19 masih melanda dunia. Belum diketahui pasti kapan wabah virus corona SARS Cov-2 akan berakhir. Hingga kini, pandemi baru tersebut telah menginfeksi lebih dari 115,27 juta orang di seluruh dunia.
Meski begitu, sejumlah negara telah melakukan program vaksinasi sebagai upaya pengendalian kasus positif Covid-19.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa salah satu fungsi vaksin yakni untuk meminimalkan kematian akibat Covid-19.
Dikutip dari situs worldometers.info, infeksi Covid-19 telah menyebabkan kematian sebanyak 2.559.172 jiwa populasi dunia.
Update terbaru pada 3 Maret 2021 tercatat ada 9.125 orang meninggal dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, ada lebih dari 21,63 juta orang diseluruh dunia yang masih positif Covid-19.
Demi pemerataan vaksinasi Covid-19, WHO mengoordinir pelaksaan COVAX, program bantuan 'patungan' vaksin dari negara-negara kaya kepada negara berpenghasilan rendah.
Program COVAX itu dijadwalkan akan mengirim 237 juta dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca ke 142 negara hingga akhir Mei.
Jadwal pengiriman dosis, yang dibuat oleh AstraZeneca dan Institut Serum India itu akan dikirim dalam dua periode,kata COVAX dalam sebuah pernyataan. Pengiriman pertama pada Februari-Maret dan yang kedua pada bulan April-Mei.
"Garis waktu ini bergantung pada berbagai faktor termasuk persyaratan peraturan nasional, ketersediaan pasokan, dan pemenuhan kriteria lain seperti rencana penyebaran dan vaksinasi nasional yang divalidasi," kata pernyataan pihak COVAX dikutip daro Channel News Asia.
Baca Juga: 7 Penerima Vaksin Covid-19 di Jogja Alami KIPI, Dinkes Sebutkan Keluhannya
Pengiriman pertama telah dilakukan sejak minggu lalu ke negara dibagian Afrika, Ghana dan Pantai Gading.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa negara Angola, Kamboja, Republik Demokratik Kongo dan Nigeria juga akan mendapatkan pengiriman vaksin yang dipasok COVAX dalam waktu dekat.
"Ini adalah kemitraan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang tidak hanya akan mengubah arah pandemi tetapi juga mengubah cara dunia menanggapi keadaan darurat kesehatan di masa depan," kata Tedros dalam jumpa pers bersama dengan UN Children's Fund UNICEF, aliansi vaksin GAVI.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak