Suara.com - Pejabat kesehatan di negara bagian Washington menemukan kasus pertama varian baru virus corona Brasil akhir tahun 2020 lalu.
Secara ilmiah, varian baru virus corona Brasil itu dikenal sebagai P1. Varian baru itu dikonfirmasi oleh UW Medicine Virology Lab, yang mengidentifikasi mutasi dalam sampel uji coba Covid-19 dari King County.
Menurut rilis berita dari Public Health, varian P1 ini mengkhawatirkan, karena mengandung sejumlah mutasi. Varian ini juga dikhawatirkan rentan terhadap respons kekebalan tubuh kita.
Menurut para pejabat, vaksin Covid-19 juga dianggap kurang efektif terhadapa beberapa varian baru virus corona Covid-19.
"Jika kita lengah, jenis varian ini akan membuat kita menderita parah," kata Jeff Duchin, petugas kesehatan Seattle & King County dikutip dari Fox News.
Namun, Jeff Duchin mengatakan semua orang masih bisa mengambil langkah-langkah untuk membatasi penularan varian ini. Tindakan pencegahan yang telah dilakukan sejauh ini tetap bisa membantu mencegah penularan varian baru virus corona.
Sebelumnya, varian baru virus corona Brasil pertama kali diidentifikasi di Amerika Serikat pada akhir Januari 2021. Varian ini diperkirakan berasal dari Manaus, kota barat laut di Amazon.
Para peneliti mengatakan kemungkinan besar varian baru virus corona ini beredar pada bulan Desember 2020. Strain virus corona ini mencakup 3 mutasi, E484K, K417T dan N501Y, mirip dengan varian yang terdeteksi di Afrika Selatan.
Tiga varian baru virus corona Covid-19, termasuk varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan. Kini, mereka telah menemukan varian serupa di negara bagian Washington.
Baca Juga: Cegah Virus Corona, CDC Buat Panduan Baru untuk Tempat Penitipan Anak
"Munculnya varian-varian ini seharusnya tidak menyurutkan kami. Mereka harus memotivasi kami untuk membalikkan keadaan pandemi," jelasnya.
Menurutnya, satu hingga dua bulan ke depan akan sangat penting dalam menentukan arah wabah ini. Sehingga, pihaknya berusaha membuat semua orang tervaksinasi seiring berkembangnya wabah.
"Jika kami terus berupaya untuk membatasi penyebaran virus corona selama beberapa bulan lagi, kami akan mengurangi risiko gelombang infeksi serius lainnya dan mempercepat kami kembali ke kehidupan yang lebih normal," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat