Suara.com - Sejumlah negara Eropa termasuk Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol telah menangguhkan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca pada Senin (14/3/2021). Penangguhan tersebut terkait dengan laporan pembekuan darah berbahaya di beberapa penerima.
Melansir dari Medical Xpress, penangguhan sementara ini tetap dilakukan meskipun perusahaan dan regulator internasional mengatakan tidak ada bukti hubungan antara pembekuan darah dan vaksinasi.
Menteri Kesehatan Jerman mengatakan keputusan untuk menangguhkan suntikan AstraZeneca diambil atas saran regulator vaksin negara tersebut, Institut Paul Ehrlich. "Keputusan hari ini adalah tindakan pencegahan murni," kata Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengatakan negaranya akan menangguhkan vaksin AstraZeneca. Regulator obat Italia juga mengumumkan larangan sementara, seperti halnya Spanyol, Portugal, dan Slovenia.
Negara lain yang telah mengambil tindakan serupa selama beberapa hari terakhir termasuk Denmark, Irlandia, Thailand, Belanda, Norwegia, Islandia, Kongo, dan Bulgaria.
AstraZeneca mengatakan ada 37 laporan pembekuan darah dari lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di 27 negara Uni Eropa dan Inggris. Produsen obat tersebut mengatakan tidak ada bukti bahwa vaksin tersebut meningkatkan risiko penggumpalan.
Faktanya, insiden pembekuan jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan terjadi secara alami pada populasi umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Obat Eropa Uni Eropa juga mengatakan bahwa data tersebut tidak menunjukkan bahwa vaksin menyebabkan pembekuan darah.
"Ribuan orang mengembangkan pembekuan darah setiap tahun di Uni Eropa karena alasan yang berbeda," kata Badan Obat Eropa.
"Insiden pada orang yang divaksinasi tampaknya tidak lebih tinggi daripada yang terlihat pada populasi umum," imbuhnya.
Baca Juga: Meski Ditunda, Kemenkes: Vaksin Covid-19 AstraZeneca Tetap Digunakan
Badan tersebut mengatakan bahwa sementara penyelidikan sedang berlangsung, manfaat vaksin AstraZeneca dalam mencegah Covid-19 dengan risiko rawat inap dan kematian lebih besar daripada risiko efek samping.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa