Suara.com - Seseorang yang memiliki kelainan pembekuan darah atau hemofilia biasanya telah didiagnosa sejak lahir. Kondisi itu disebabkan beberapa faktor termasuk penyakit genetik yang kebanyakan diturunkan oleh ibunya.
Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Prof. dr. Djajadiman Gatot menjelaskan dalam ilmu kedokteran, dipelajari bagaimana hemofilia umumnya telah terdeteksi sejak bayi. Namun pada pasien autoimun yang baru terdeteksi saat dewasa, beberapa ada yang menunjukan gejala seperti hemofilia.
"Kalau yang kita pelajari semula biasanya dari kecil karena genetik. Ada juga yang kita kenal pada orang dewasa seperti timbul penyakit yang disebut autoimun. Entah bagaimana si penyandang itu membuat antibodi, salah satu yang terkenal lupus, beberapa juga ternyata timbun hemofilia padahal tidak ada riwayat apa-apa," papar dokter Djaja dalam webinar perayaan Hari Hemofilia Dunia, Kamis (15/4/2021).
Menurut dokter Djaja, kasus seperti itu lebih banyak ditemukan pada pasien perempuan. Sebab, ia menjelaskan perempuan sebenarnya memiliki imunitas lebih tinggi.
Tetapi, menurut para ahli alergi-imunologi, hal tersbut bisa menimbulkan berbagai kelainan yang disebabkan semacam autoimun. "Jadi mengganggu pembentukan atau tidak terbentuknya faktor VIII itu," ucap dokter Djaja.
Dokter spesialis anak dan jyga anggota HMHI Dr. dr. Novie A. Chozie, Sp.A (K)., menambahkan, penyakit autoimun itu yang bisa menyebabkan acquired hemofilia atau hemofilia yang diperoleh bukan yang diwariskan secara genetik akibat kerusakan kromosom X.
"Jadi munculnya karena ada antibodi terhadap faktor VIII. Itu biasanya pada faktor pasien diabetes melitus yang berat atau misalnya ada beberapa jenis keganasan seperti limfoma itu bisa timbul seperti itu," kata dojter Novie.
Kebanyakan acquired hemofilia tersebut dialami oleh pasien yang telah berusia geriatri atau lansia, lanjut dr. Novie.
Sementara pada pasien hemofilia secara genetik, terutama pada jenis Hemofilia A, sejak lahir orang tersebut telah mengalami kerusakan gen yang bertugas memproduksi faktor VIII. Sehingga yang terjadi tubuhnya tidak mampu memproduksi faktor VIII.
Baca Juga: Penyakit Autoimun Kambuh Jelang Vaksinasi Kedua, Lanjut Vaksin atau Tidak?
"Karena tubuh tidak mampu memproduksi faktor VIII, dokter memberikan faktor VIII karena dia butuh. Kalau tidak, nanti dia pendarahan," jelas dr. Novie.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat