Suara.com - Serangan asma tidak hanya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari tetapi juga dapat mengancam jiwa.
Asma sendiri merupakan penyakit jangka panjang yang mengenai saluran pernapasan dan ditandai dengan adanya peradangan serta penyempitan saluran napas hingga akhirnya menimbulkan masalah sesak napas.
"Secara garis besar, gejala asma itu sesak, batuk, dan dada terasa berat. Biasanya ciri khasnya saat malam hari atau pagi hari," kata Dokter Spesialis Paru Siloam Hospitals ASRI, dr. Jaka Pradipta dalam acara bertema Kenali Faktor Risiko Penyakit Asma Beserta Pengobatannya, Minggu (9/5/2021) kemarin.
Ia melanjutkan, penyakit asma juga memiliki gejala variasi waktu dan intensitas, seperti keadaan yang membaik, kemudian berubah memburuk.
"Gejalanya bervariasi, ada keadaannya membaik dan ada keadaan yang memburuk. Juga ada yang batuk dan juga tidak batuk," tambah dr. Jaka Pradipta.
Dikatakan lagi, ciri khas asma memiliki faktor pencetus seperti aktivitas, pajanan alergen, iritan, perubahan cuaca, dan infeksi virus.
"Contohnya olahraga, iritasi seperti zat baunya menyengat. Kayak bau cat, bau parfum, dan itu bersifat iritan. Bukan alergi, tapi bau parfum itu membuat iritasi saluran pernapasan sehingga asma nya kambuh," jelasnya.
Ada beberapa tes kualitas paru yang bisa dilakukan bagi pasien penyakit asma. Tes tersebut adalah uji spirometri dan uji arus puncak ekspirasi.
"Pertama uji spirometri dan uji arus puncak ekspirasi, yakni dengan cara meniup saluran napas atau alat. Dan kita lihat seberapa baik fungsi parunya. Tapi di era COVID-19 pemeriksaan ini kita kurangi, karena bisa mengakibatkan airbone," paparnya.
Baca Juga: Tak Rumit, Ini Strategi Akhiri Pandemi Covid-19 Versi Dokter Paru
Sementara uji spirometri dilakukan dengan cara melihat perbaikan dan perburukan setelah pemberian obat. Selain itu, pasien asma juga diperiksa lewat uji arus puncak ekspirasi, dan dilihat seberapa bagus harian gejalanya.
"Uji spirometri biasa kita lakukan ini pasien punya asma atau tidak, juga kita lihat perbaikan atau perburukan setelah pemberian obat. Selain itu, pasien juga kita lakukan lewat uji arus puncak ekspirasi, untuk dinilai seberapa bagus harian gejalanya. Jadi nilainya hari ini berapa, besok berapa dan kita lihat respon pengobatannya gimana," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi