Suara.com - Selama ini tidur yang baik selalu dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental yang paripurna. Tapi, yang tidak banyak diketahui bahwa ternyata tidur yang nyenyak dan seks yang baik punya hubungan.
Dilansir dari everyday health, studi baru menyoroti bagaimana seks dan tidur terhubung di luar fakta sederhana bahwa masing-masing sering kali melibatkan tempat tidur.
Studi itu menemukan bahwa perempuan paruh baya dengan kualitas tidur yang kurang cenderung memiliki tingkat disfungsi seksual yang lebih tinggi.
Penting untuk memahami keterikatan apa pun antara tidur dan masalah seksual, karena keduanya sangat umum pada perempuan paruh baya, kata rekan penulis penelitian, Stephanie Faubion, MD, ketua departemen kedokteran di Mayo Clinic di Jacksonville, Florida, dan direktur medis Masyarakat Menopause Amerika Utara (NAMS).
Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa lebih dari 26 persen perempuan paruh baya memiliki masalah tidur yang signifikan, dengan lebih dari setengahnya mengalami setidaknya beberapa masalah tidur selama masa transisi menopause, catat penulis penelitian.
Sementara itu, sekitar 43 persen perempuan paruh baya mengalami disfungsi seksual, yang bisa berupa berkurangnya hasrat, masalah orgasme, ketidakpuasan, nyeri, atau masalah lainnya.
Beberapa penelitian sebelumnya berusaha untuk menghubungkan kualitas tidur dengan seks, tetapi mereka tidak secara konsisten menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, kata Dr. Faubion.
Untuk studi baru yang dipublikasikan secara online 21 April di jurnal Menopause, perempuan diminta mengisi beberapa kuesioner yang telah divalidasi sebelumnya, artinya pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan yang tepat untuk mengidentifikasi masalah ini.
Ini termasuk kuesioner tentang tidur yang dikenal sebagai Pittsburgh Sleep Quality Index, yang menanyakan tidak hanya tentang jam tidur seorang perempuan, tetapi apakah dia memiliki masalah tertidur dan apakah tidurnya dipengaruhi oleh sesuatu, termasuk kondisi fisik, suhu ruangan. , kebutuhan untuk sering buang air kecil, atau faktor lainnya.
Baca Juga: Apakah Berhubungan Seks di Malam Idul Fitri Berdosa?
Fungsi seksual diidentifikasi menggunakan dua kuesioner, Indeks Fungsi Seksual perempuan dan Skala Gangguan Seksual perempuan revisi. Keduanya penting untuk benar-benar memahami disfungsi seksual, kata Faubion, meskipun dia mengatakan bahwa banyak peneliti hanya mengandalkan indeks pertama.
"Anda tidak bisa menyebut sesuatu sebagai masalah kecuali perempuan itu melakukannya," katanya. “Penting tidak hanya untuk mengatakan bahwa ada keinginan yang rendah, misalnya, tetapi bagi perempuan itu sendiri untuk mengidentifikasi bahwa itu mengganggunya,” katanya.
Kuesioner lain melihat kecemasan perempuan, suasana hati, dan kepuasan hubungan.
Studi ini melibatkan lebih dari 3.400 perempuan paruh baya yang datang ke Mayo Clinic di Minnesota dan Arizona dari 2016 hingga 2019. perempuan-perempuan ini sebagian besar berkulit putih, berpendidikan, dan sedang menjalin hubungan, jadi tidak diketahui apakah hasilnya akan sama untuk yang lebih luas. populasi perempuan.
Beberapa penelitian sebelumnya berusaha untuk menghubungkan kualitas tidur dengan seks, tetapi mereka tidak secara konsisten menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, kata Dr. Faubion.
Untuk studi baru yang dipublikasikan secara online 21 April di jurnal Menopause, perempuan diminta mengisi beberapa kuesioner yang telah divalidasi sebelumnya, artinya pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan yang tepat untuk mengidentifikasi masalah ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
Pilihan
-
Rumus Keliling Lingkaran Lengkap dengan 3 Contoh Soal Praktis
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
Terkini
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren
-
Bosan Liburan Gitu-Gitu Aja? Yuk, Ajak Si Kecil Jadi Peracik Teh Cilik!
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya
-
Era Baru Dunia Medis: Operasi Jarak Jauh Kini Bukan Lagi Sekadar Imajinasi
-
Angka Kematian Bayi Masih Tinggi, Menkes Dorong Program MMS bagi Ibu Hamil