Suara.com - Baik dunia maupun Indonesia sepakat bahwa air susu ibu atau ASI adalah makanan terbaik di 2 tahun pertama kehidupan. Itulah kenapa gencar pelarangan promosi produk susu atau makanan bayi yang diklaim lebih menyehatkan dari ASI, lewat program Kode Internasional.
Kode Internasional adalah aturan dan standar untuk mendukung ibu memberikan ASI, dengan pelarangan promosi berlebihan dari produk makanan dan minuman bayi.
Inisiator WA BOT Laporan Pelanggaran Kode Internasional, AIMI Pusat, Dr. Irma Hidayana, MPH, menyoroti masifnya penggunaan internet di media sosial dimanfaatkan promosi makanan dan minuman bayi berlebihan.
"Kadang kebablasan menggunakan klaim-klaim kesehatan yang tidak terbukti secara ilmiah kebenarannya. 'Kalau minum ini anak saya jadi lebih sehat', 'Kalau minum ini anak saya alerginya hilang karena mengandung A,B,C,D lambang kimia makanan'," ungkap Irma dalam konferensi pers virtual, Sabtu (22/5/2021).
Mirisnya, banyak ibu dan orangtua yang merasa berwawasan, dengan mudah termakan promosi ini dengan bahasa yang dikemas lebih intelektual. Padahal data dan bukti penelitian tidak bisa ditinjau lebih lanjut.
"Ibu-ibu atau keluarga yang memiliki pendidikan menengah ke atas, pasti melihat, 'Wah, saya berpendidikan, modern, saya percaya produk-produk yang memiliki nutritionist label'," tutur Irma.
Padahal menurut Irma, itu tidak lebih dari taktik dan strategi marketing atau penjualan. Sedangkan kode internasional tegas melarang promosi produk pengganti ASI, apalagi jika sampai dikemas atau diiklankan dengan berlebihan.
"Jadi kita ingin untuk menghentikan, mari sama-sama secara kolektif untuk menghentikan semua upaya taktik marketing, pemasaran, dan pengiklanan," jelas Irma.
Dan yang lebih menyedihkan, promosi ini bukan hanya menargetkan orangtua dan keluarga semata, tapi juga tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, semata-mata agar produk pengganti ASI terjual.
Baca Juga: Para Ibu di AS Mencari ASI yang Mengandung Antibodi Covid-19 untuk Bayinya
"Ini yang tidak patut, dan harus dihentikan demi kesehatan anak-anak kita," tegas Irma.
Meski begitu sebagai anggota Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), pihaknya tidak melarang produsen membuat aneka ragam produk minuman dan makanan untuk anak kecil.
Namun kata Irma, yang dilarang adalah taktik pemasaran menggunakan klaim yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, hanya dalih mengandung berbagai istilah gizi yang disebut bisa lebih menyehatkan.
"Kode internasional berlaku yang diperbaharui setiap saat, dan di antaranya tertera, semua pemasaran produk makanan bayi dan anak dari umur 0 sampai 36 bulan atau 3 tahun tidak boleh dipasarkan," pungkas Irma.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi