Suara.com - Talasemia atau kelainan sel darah merah merupakan penyakit yang ditularkan secara genetik oleh orangtua kandung kepada anaknya.
Dikatakan oleh Dokter spesialis Anak Konsultan Hematologi dr. Bambang Sudarmanto, kelainan penyakit darah tersebut terletak pada tidak terbentuknya rantai hemoglobin di dalam darah.
Pada pengidap talasemia mayor, gejala bisa mucul pada dua tahun pertama kehidupan. Anak-anak dengan talasemia akan sering mengalami anemia karena kadar hemoglobin dalam tubuh terlalu rendah.
Dokter Bambang mengatakan, kondisi tersebut berisiko menyebabkan tumbuh kembang anak jadi terganggu. Selain itu, anak juga akan merasa lemas dan lemah sehingga mengganggu aktivitas anak.
"Anemia ini dapat menyebabkan tubuh terutama organ-organ penting seperti otak, jantung, hati, ginjal dan yang lain akan kekurangan oksigen (hipoksia), karena hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen yang dihirup ketika kita bernapas," kata Bambang.
Akibatnya, tumbuh kembang anak akan terganggu, yang kemudian memengaruhi produktivitas belajar, bekerja, dan kualitas hidup anak di kemudian hari.
Meski tidak dapat disembuhkan, pasiem talasemia dapat melakukan pengobatan dengan transfusi darah merah setiap bulan untuk mencegah terjadinya anemia.
Dokter Bambang menjelaskan bahwa pemberian transfusi darah diberikan kepada anak dengan kadar hemoglobin kurang dari 7 gr/dL pada awal diagnosis. "Harus rutin dilakukan dengan rentang waktu 2-4 minggu," imbuhnya.
Pasien talasemia juga harus melakukan terapi kelainan zat besi. Sebab transfusi darah yang dilakukan secara rutin setiap bulan menimbulkan efek samping berupa penumpukan zat besi dalam tubuh.
Baca Juga: Hari Talasemia Sedunia 2021: Ini Makanan yang Harus Dipantang Penderita
Dikatakan setiap kantong transfusi darah mengandung 200-250 mg zat besi zat yang menumpuk di dalam jaringan tubuh, kata dokter Bambang.
Zat besi yang berlebih inilah yang akan tertimbun di organ-organ penting tubuh seperti otak, pankreas, jantung, hati, ginjal serta organ penting lainnya.
Risiko terparah akibat penumpukan zat besi bisa menyebabkan gagal jantung, sirosis hepatis atau kerusakan sel hati, diabetes melitus, kelainan ginjal hingga kematian.
"Oleh karena itu kelebihan zat besi ini harus dikeluarkan dari tubuh dengan memberikan pengobatan kelasi besi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
Pilihan
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia