Suara.com - Penelitian baru dari ahli onkologi medis Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSK) Dean Bajorin, MD, menunjukkan obat nivolumab (Opdivo) yang dikonsumsi setelah operasi kanker kandung kemih (urothelial) dapat mengurangi risiko kekambuhan.
Dalam studi acak fase III ini, Bajorin dan tim peneliti mengevaluasi 709 pasien yang berisiko tinggi mengalami kekambuhan kanker urothelial setelah operasi pengangkatan kandung kemih, ureter, atau ginjal.
Kanker urothelial adalah tumor yang dimulai pada lapisan sistem pengumpulan urine yang mengangkut urin dari ginjal untuk dibuang. Kanker ini sering disebut kanker kandung kemih karena kebanyakan tumornya dimulai di kandung kemih.
Untuk mengevaluasi manfaat, secara acak pasien menerima nivolumab atau plasebo setiap dua minggu selama satu tahun.
Bajorin dan tim, dilansir Medical Xpress, menemukan obat nivolumab mengurangi risiko kekambuhan setelah operasi pada pasien yang berisiko tinggi mengalaminya, dibandingkan kelompok plasebo.
Standar perawatan saat ini setelah operasi pengangkatan kandung kemih atau ginjal dan ureter umumnya tanpa terapi tambahan, bahkan pada pasien dengan risiko tinggi alami kekambuhan dan kematian.
Sebab, tidak ada kemoterapi atau imunoterapi yang sebelumnya terbukti bermanfaat.
Studi menunjukkan, peserta yang menerima nivolumab memiliki kelangsungan hidup bebas penyakit selama 21 bulan dibandingkan dengan penerima plasebo, yang hanya 10,9 bulan.
"Kami sangat terdorong oleh data dan hasil penelitian ini. Meski terapi tersedia untuk kanker kandung kemih metastatik lanjut, pilihan baru diperlukan untuk meningkatkan pengendalian penyakit jangka panjang dan kelangsungan hidup pasien," kata Bajorin.
Baca Juga: Peneliti Menemukan Cara agar Sel Kanker Tidak Menyebar ke Organ Lain, Seperti Apa?
Bajorin dan tim menyimpulkan bahwa data kelangsungan hidup ini belum matang dan akan membutuhkan penelitian dan tindak lanjut tambahan.
"Kami berharap perawatan ini akan mendapatkan persetujuan untuk semua pasien yang berisiko tinggi kambuh setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS melakukan review detail semua datanya," pungkas Dr. Bajorin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?