Health / men
M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Gelandang Timnas Denmark, Christian Eriksen (tengah) dievakuasi setelah kolaps di tengah lapangan pada laga Grup B Euro 2020 kontra Finlandia di Parken Stadium, Copenhagen, Sabtu (12/6/2021) malam WIB lalu. [Friedemann Vogel / AFP / POOL]

Suara.com - Dunia olahraga dibuat terkejut dengan peristiwa dua atlet yang mengalami serangan jantung saat sedang bertanding di lapangan.

Pemain Timnas Denmark Christian Eriksen kolaps di tengah pertandingan EURO 2020. Juga legenda bulutangkis Indonesia Markis Kido kolaps, beberapa saat kemudian meninggal, saat sedang bermain bulutangkis.

Dokter spesialis keolahragaan dr. Andi Kurniawan, Sp.OK., mengatakan bahwa ada dua risiko yang bisa dialami siapapun saat sedang olahraga. Yakni, cedera dan serangan jantung.

Menurutnya, cedera bisa terjadi pada sendi, otot, maupun tulang.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini 10 Fakta Menarik Tentang Christian Eriksen

Legenda pemain ganda Indonesia Markis Kido. [IG akun markis_kido11]

"Ketika bicara sendi, otot, tulang biasanya karena kurang pemanasan. Tapi ketika bicara henti jantung faktor risiko banyak sekali," kata dokter Andi dihubungi suara.com, Selasa (15/6/2021).

Risiko pertama bisa terjadi pada seseorang dengan riwayat keluarga yang meninggal akibat serangan jantung. Menurut dokter Andi, anak atau cucu berikutnya memiliki risiko alami hal serupa. Risiko kedua, jika memiliki kebiasaan meroko.

"Ketiga, terlatih olahraga atau tidak. Misalnya, awalnya tidak aktif olahraga tapi karena lagi musim olahraga jadi ikut olahraga memaksakan diri. Keempat, hasil medical checkup gimana, ada kolesterol atau engga. Jadi banyak faktor risiko yang bisa diukur," jelasnya.

Serangan jantung ketika berolahraga juga bisa dicegah dengan mengatur insentitas atau tingkat kelelahan, lanjut dokter Andi. Dari hasil penelitian telah menunjukan bahwa serangan jantung saat berolahraga disebabkan intensitas terlalu berat.

Masyarakat awam disarankan cukup berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang. Artinya, kata dokter Andi, tidak menyebabkan napas tersengal-sengal. Atau melakukan hitung denyut nadi, intensitas ringan hingga sedang berarti hanya membatasi 50-60 persen dari denyut maksimal.

Baca Juga: Markis Kido Sempat Ngorok Saat Pingsan, Dokter: Itu Tanda Sumbatan Jalan Napas

"Sekarang ada smartwatch yang bisa menghitung. Misalnya umur saya 40, denyut nadi maksimal saya adalah 220. Lalu dikurangi 40 (usia) berarti 180. Saya kalau mau intensitas ringan berarti cukup di 50-60 persen dari 180 denyut nadi maksimal. Jadi saya cukup olahraga di 90-120 (denyut nadi) aja. Gak boleh lebih dari itu," paparnya.

Komentar