Suara.com - Dunia olahraga dibuat terkejut dengan peristiwa dua atlet yang mengalami serangan jantung saat sedang bertanding di lapangan.
Pemain Timnas Denmark Christian Eriksen kolaps di tengah pertandingan EURO 2020. Juga legenda bulutangkis Indonesia Markis Kido kolaps, beberapa saat kemudian meninggal, saat sedang bermain bulutangkis.
Dokter spesialis keolahragaan dr. Andi Kurniawan, Sp.OK., mengatakan bahwa ada dua risiko yang bisa dialami siapapun saat sedang olahraga. Yakni, cedera dan serangan jantung.
Menurutnya, cedera bisa terjadi pada sendi, otot, maupun tulang.
"Ketika bicara sendi, otot, tulang biasanya karena kurang pemanasan. Tapi ketika bicara henti jantung faktor risiko banyak sekali," kata dokter Andi dihubungi suara.com, Selasa (15/6/2021).
Risiko pertama bisa terjadi pada seseorang dengan riwayat keluarga yang meninggal akibat serangan jantung. Menurut dokter Andi, anak atau cucu berikutnya memiliki risiko alami hal serupa. Risiko kedua, jika memiliki kebiasaan meroko.
"Ketiga, terlatih olahraga atau tidak. Misalnya, awalnya tidak aktif olahraga tapi karena lagi musim olahraga jadi ikut olahraga memaksakan diri. Keempat, hasil medical checkup gimana, ada kolesterol atau engga. Jadi banyak faktor risiko yang bisa diukur," jelasnya.
Serangan jantung ketika berolahraga juga bisa dicegah dengan mengatur insentitas atau tingkat kelelahan, lanjut dokter Andi. Dari hasil penelitian telah menunjukan bahwa serangan jantung saat berolahraga disebabkan intensitas terlalu berat.
Masyarakat awam disarankan cukup berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang. Artinya, kata dokter Andi, tidak menyebabkan napas tersengal-sengal. Atau melakukan hitung denyut nadi, intensitas ringan hingga sedang berarti hanya membatasi 50-60 persen dari denyut maksimal.
Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini 10 Fakta Menarik Tentang Christian Eriksen
"Sekarang ada smartwatch yang bisa menghitung. Misalnya umur saya 40, denyut nadi maksimal saya adalah 220. Lalu dikurangi 40 (usia) berarti 180. Saya kalau mau intensitas ringan berarti cukup di 50-60 persen dari 180 denyut nadi maksimal. Jadi saya cukup olahraga di 90-120 (denyut nadi) aja. Gak boleh lebih dari itu," paparnya.
Akan tetapi, disadari dokter Andi bahwa tidak semua masyarakat sadar dengan cara hiting denyut nadi maksimal. Oleh sebab itu, ia menyarankan cara sederhana lain dengan melakukan talk test.
"Paling gampang itu pakai talk test. Kalau masih bisa nyanyi saat olahraga itu masih intensitas ringan. Kalau gak bisa nyanyi tapi bisa ngobrol itu intensitas sedang. Kalau ngos-ngosan, gak bisa ngobrol itu sudah intensitas berat. Jadi disarankan buat masyarakat yang tidak tahu kondisinya direkomendasikan olahraga ringan sampai sedang," ucapnya.
Menentukan intensitas tidak terpengaruh dengan jenis olahraga yang dilakukan, lanjut dokter Andi. Sekalipun melakukan olahraga permainan seperti sepakbola juga bulangkis, ataupun olahraga individu seperti berlari, kuncinya tetap pada intensitas berolahraga.
Dokter Andi berpesan pada masyarakat awam, terlebih yang tidak ruti berolahraga, jangan memaksakan diri olahraga langsung dengan intensitas berat seolah-olah seperti atlet. Sebab hal tersebut butuh latihan lama dan harus bertahap.
"Jadi berolahragalah tapi jangan sampai buat ngos-ngosan, susah bernapas, susah bicara. Itu yang berisiko henti jantung," saran dokter Andi lagi.
Berita Terkait
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Waspada 'Serangan Diam-Diam' saat Mudik, Pakar Ingatkan Risiko Jantung dan Stroke di Perjalanan
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Mengenal Operasi TAVI, Prosedur Jantung Modern Minimal Invasif yang Kini Hadir di Bali
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Terkini
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman