Suara.com - Virus corona varian Deltamenjadi perhatian karena lebih menular. Kini, pejabat India pun menemukan varian Delta plus sebagai cabang dari virus corona varian Delta yang paling dominan di Inggris.
India telah mengidentifikasi jejak genetik dari varian Delta plus yang juga dikenal sebagai AY.1 pada sekitar 40 sampel dari 3 negara bagian. Di mana 16 sampelnya berasal dari Maharashtra, India.
Saat ini, baru ada sedikit informasi mengenai varian Delta plus ini. Meskipun, para ilmuwan masih belum yakin seberapa jauh perbedaannya dengan varian Delta dasar secara genetik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap varian Delta plus ini sebagai bagian dari varian Delta yang sudah tersebar luas. Tampaknya, varian Delta plus ini juga menimbulkan gejala yang sama.
Tapi, mungkin ada beberapa tanda-tanda yang berbeda akibat infeksi varian Delta plus tersebut bila dibandingkan dengan varian virus corona lainnya.
Profesor Tim Spector, ilmuwan utama di aplikasi pelacak gejala Zoe, menguraikan bahwa infeksi varian Delta plus itu bisa memberikan efek yangsangat berbeda bila dibandingkan dengan pasien virus corona Covid-19 umumnya.
Tim Spector mengatakan bahwa varian Delta dasar saja sudah bekerja sedikit berbeda dengan virus corona Covid-19 yang sebelumnya. Hilangnya indra penciuman dan rasa tidak lagi masuk dalam gejala umum virus corona varian Delta tersebut.
Orang yang terinfeksi virus corona varian Delta justru memiliki 3 gejala umum yang sangat berbeda dari sebelumnya, antara lain sakit kepala, sakit tenggorokan dan pilek.
Sedangkan, gejala umum virus corona Covid-19 di awal pandemi berupa demam tinggi, batuk terus-menerus serta hilangnya indra penciuman dan rasa.
Baca Juga: Oxford Sebut Vaksin AstraZeneca Efektif Lawan Varian Delta
Saat ini, para ilmuwan belum yakin varian Delta plus mengembangkan mutasi yang berbeda dengan varian Delta dasar atau tidak. Dr Jeremy Kamil, seorang ahli virus di Louisiana State University, mengatakan varian Delta plus mungkin memiliki sedikit keunggulan dalam infektivitasnya.
Artinya, keunggulan ini mungkin membuatnya lebih mudah menginfeksi orang yang pernah terinfeksi virus corona sebelumnya atau kekebalan dari vaksin yang lemah bisa ditembus oleh varian Delta plus tersebut.
"Belum ada cukup data untuk menyatakan varian Delta plus ini lebih berbahaya atau memprihatinkan dibandingkan Delta dasar," kata Dr Kamil dikutip dari Express.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru