Suara.com - Kementerian Kesehatan mencatat kurang lebih 18 juta atau 7,1 persen penduduk Indonesia mengalami infeksi hepatitib B. Selain itu, 1 persen atau sekitar 2 juta orang lainnya mengalami sakit hepatitis C, demikian menurut data Rset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2013.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid., mengatakan, kedua jenis hepatitis itu memang yang paling banyak ditemukan di Indonesia.
"Yang menjadi penting juga bahwa anak usia kurang dari 1 tahun sudah bisa positif hepatitis karena dia bisa tertular dari ibunya yang positif hepatitis," kata Nadia dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan, Senin (26/7/2021).
Besarnya jumlah kasus tersebut, menurut Nadia, bisa menimbulkan kondisi luar biasa atau KLB. Selain itu, juga mengakibatkan penurunan kualitas hidup orang yang tertular dan terinfeksi Hepatitis B maupun C. Tak kalah penting juga bisa menularkan kepada bayi yang akan dilahirkan.
"Menjadi penting karena itu kita, Kementerian Kesehatan, untuk bisa menurunkan dan mengendalikan hepatitis," imbuhnya.
Selain karena disebabkan oleh infeksi virus, penularan hepatitis B dan C bisa terjadi melalui darah. Misalnya, tranfusi darah, kehamilan, hingga berhubungan seksual. Nadi mengingatkan, jika i feksi hepatitis semakin kronik bisa berakibat menjadi sirosis atau kanker hati.
Oleh sebab itu pentingnya deteksi dini, pengobatan, juga vaksinasi hepatitis sebagai pencegahan. Nadia menyebut, telah mencapai 78 6 persen rumah sakit Kabupaten/Kota di 28 provinsi bisa dilakukan deteksi dini hepatitis.
"Diharapkan tahun ini sudah mencapai 90 persen," ucapnya.
Diakui Nadia bahwa deteksi dini hepatitis memang belum bisa dilakukan di fasilitas layanan kesehatan lainnya seperti puskesmas. Baru bisa dilakukan hanya di rumah sakit. Sebab, kata Nadia, baik pemeriksaan juga pengobatan bagi pasien hepatitis harus dilakukan oleh dokter spesialis.
Baca Juga: Klik farmaplus.kemkes.go.id Cara Cek Online Obat Covid-19 Ada atau Tidak di Apotek
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien