Suara.com - Pemberian ASI yang cukup berkorelasi dengan mencegah terjadinya stunting pada bayi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyebutkan bahwa stunting masih termasuk permasalahan gizi pada anak yang menjadi perhatian pemerintah.
Padahal pencegahannya cukup dengan memastikan asupan gizi anak tercukupi, terutama konsumsi ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.
"Pemberian ASI secara baik ternyata memiliki korelasi yang sangat kuat dengan upaya pencegahan stunting. Sehingga bayi yang mendapatkan ASI secara benar memiliki potensi 4,8 kali tidak akan mengalami stunting dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Ayo kita sama-sama menggerakkan pemberian ASI kepada bayi," kata Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA Ir. Agustina Erni, M.Sc., dalam webinar yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemen PPPA, Kamis (5/8/2021).
Agustina menekankan bahwa pemberian ASI juga termasuk hak anak yang harus diberikan orangtua. Selain mencegah terjadinya stunting, ASI juga terbukti mampu mencegah kematian bayi hingga 2 juta jiwa per hari karena mendapatkan nutrisi terbaik sejak lahir.
ASI yang terbukti juga mengandung antibodi untuk melawan bakteri, bermanfaat bagi 50-90 persen anak agar tidak terserang infeksi saluran pernapasan akut dan diare.
"Manfaat ketiga adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Keempat meningkatkan produktivitas kerja dan tentunya juga memberikan rasa percaya diri bagi ibu. Jadi tidak hanya bermanfaat untuk bayi, tapi juga ibu sendiri dan keuntungan tentu lebih ekonomis tidak harus membeli susu," ucapnya.
"Ternyata ASI juga bisa meningkatkan intelegensia dan mempercepat persiapan anak untuk belajar dalam proses pendidikan. Juga telah dibuktikan bisa memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak. Dan ini juga yang penting bagi ibu dengan menyusui secara langsung bisa meningkatkan terhindar dari resiko kanker payudara," jelas Agustina.
Pemberian ASI yang cukup bagi 0ara bayi bukan hanya menjadi tugas ibu. Bahkan juga keluarga, lingkungan, juga pemerintah. Agustina menyampaikan, hal itu menjadi penting lantaran usia anak mendominasi sekitar dua per tiga dari populasi di Indonesia.
Sehingga, kesehatan mereka saat ini, sangat berpengaruh terhadap masa depan Indonesia juga.
Baca Juga: Ibu Menyusui Terkendala Jam Kerja, Coba Gunakan Dot Orthodontic
Ia menyebutkan, berdasarkan data profil anak Indonesia tahun 2019, jumlah anak Indonesia saat ini mencapai 84,4 juta jiwa atau sekitar 31,6 persen dari total penduduk Indonesia. Jika dikelompokan berdasarkan rentang usia, 0 sampai 4 tahun sebanyak 27 persen. Kemudian usia 5 sampai 9 tahun ada 20 persen.
Usia 10 sampai 14 tahun sebanyak 28 persen dan usia 15 sampai 17 tahun ada 17 persen.
"Inilah potensi pemimpin kita kedepan yang nanti meneruskan kemajuan dari bangsa kita. Oleh karena itu kita wajib memastikan bahwa mereka mendapatkan hak dan kehidupan yang layak," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang